Attitude Vs Intelegensi, PR Besar Dunia Pendidikan Kita

Tulisan ini sengaja saya buat usai tadi siang memproses 3 kandidat untuk posisi strategis di perusahaan. Geli juga rasanya mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan kampus ternama tidak lolos interview user apakah karena Attitude Vs Intelegensi yang tidak seiring sejalan.

attitide vs intelegensi
https://kanaljogja.id

“Kurang luwes dan kaku,” demikian alasan user menolak.

Mencoa menelaah apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa seseorang yang harusnya bisa ke tahap selanjutnya gugur di tengah jalan. Nilai IPK diatas 3 dan nilai psikotes diatas rata-rata kini bukan jaminan.

Menelisik ke CV yang ada, mereka rata-rata yang gagal memiliki kecenderungan study oriented. Berharap bisa lulus kurang dari 4 tahunan dengan nilai diatas rata-rata.

Tapi mereka lupa, dunia kerja tidak hanya berbicara tentang nilai diatas kertas. Ada banyak hal lain yang tidak dapat diduga dan semua itu butuh kedewasaan untuk menyelesaikannya.

Lainnya halnya bila bekerja hanya berorientasi pada uang atau duit semata. Kini banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan tanpa tim yang solid
Kembali menerawang dimana saya juga pernah seperti mereka. Mayorias mahasiswa hanya menjalankan ritus 3K yang terdiri Kampus, kos dan kantin.

Tanpa pernah membekali hal lain. Ke perpustakaan pun hanya sebatas ada tugas kampus dan tidak bisa menyelesaikan tanpa contekan.

Tak dapat dipungkiri juga dunia pendidikan kita masih berkutat tentang bagaimana mencetak sarjana atau tenaga kerja yang unggul secara intelegensi. Mungkin sedikit lupa bahwa attitude jauh lebih akan berperan bila mana kelak peserta didik akan berinteraksi.

Intelegensi hanya akan berpengaruh saat si peserta didik lulus dan kemudian mengikuti serangkaian tahapan rekrutmen. Bila telah selesai menyelesaikan proses rekrutmen maka kandidat akan dihadapkan pada persoalan prakmatis.

Dimana kadang masalah tidak cukup diselesaikan hanya dengan intelegensi. Kemampuan interpersonal, negosiasi dan loby-loby yang akan berpengaruh kemudian. Oleh karena itu pastikan buat kamu yang kerja minimal akan mendapat 3 hal positif selama bekerja.

Tak kaget kiranya bila saya memproses karyawan dalam proses rekrutmen berguguran saat interview. Padahal dalam tes tertulis baik itu tes berhitung, logika sederhana, logika bahasa, pemahaman mendengarkan instruksi hingga kecepatan dan ketahanan kerja diatas rata-rata.

Bila telah lulus kuliah ibarat nasi telah menjadi bubur. Waktu tak dapat diulang kembali. Yang ada kini hanya memaksimalkan bubur yang ada agar menjadi ramuan yang tepat.

Alternatif terbaik tentu saja untuk mulai bisa mengenali diri sendiri. Ada lebih dimana dan lemah dimana sehingga yang menjadi nilai lebih bisa diperjuangkan.

Terlebih mereka yang mengaku sarjana dimana mereka disiapkan dilevel menengah. Bisa jadi siap tidak siap akan akan segera punya tim atau bawahan.

Bayangkan bila seseorang tidak pernah memimpin tim sama sekali. Saat bekerja diberi kepercayaan untuk memimpin rekan-rekannya. Yang terjadi kemudian adalah shock culture hingga yang paling tragis adalah rasa tidak mampu.

Oleh karena itu bagi kamu yang masih menempuh pendidikan. Jangan terlalu bangga kelak akan jadi sarjana. Berapa ribu sarjana yang ditelorkan oleh ratusan kampus di Jogja.

Belum lagi kampus-kampus lain yang ada di seluruh Indonesia. Tanpa membekali diri bisa jadi bahwa yang ada kemudian adalah tenaga kerja “mogol”. Dikatakan siap pakai belum layak, dikatakan tidak mampu terlalu berat.

Beruntung saya ketika kuliah tidak berkecukupan secara finansial. Artinya harus memutar otak untuk bisa bertahan di bangku kuliah dan untuk makan sehari-hari.

Ingat betul selama kuliah 4 tahun ada belasan organisasi diikuti. Namun hanya 2 yang diseriusi kala itu yakni Unit Kegaiatan Mahasiswa Teater dan Pers Mahasiswa,

Organisasi yang kemudian menyelamatkan saya dalam pertarungan pencarian kerja. Ingat betul usai lulus kuliah ingin menjajal kerasnya dunia media.

Sebelumnya bisa mencicipi pengalaman di media sebesar tribun saya berkesempatan untuk tes di salah satu stasiun TV di Tendean. Beruntung kala itu gagal karena sejatinya mungkin hati lebih cocok menulis daripada di tim kreatif.

Selama tes di dua perusahaan tersebut tak pernah ditanyakan kamu dari kampus mana dan memiliki IPK berapa. Yang mereka tanyakan rata-rata sama, mulai dari apa yang dilakukan selama di kampus hingga cita-cita dikemudian hari.

Bukan Attitude Vs Intelegensi tapi seimbangkan antara keduanya. Menggunakan konsep ala koki dimana semua bahan akan menjadi menu yang enak. Tergantung siapa yang meraciknya dan semoga kamu menemukan koko yang tepat.

This Post Has 5 Comments

  1. Sekolah hanya menitik beratkan pada hal nilai-nilai dalam kertas tersebut. Dan hanya mentransfer ilmu dari gurunya. interaksi dan sosial kurang diberi ruang. Makanya jangan heran setelah lulus, tampak kebingungan dan kaku saat bergaul.

  2. Masalah ini memang sudah sehari-hari saya temukan bang. Sebagai mahasiswa yang baru lulus, kadang saya sedih melihat teman-teman saya yang terlalu santai menatap dunia kerja. Mereka tak melakukan apa-apa, hanya kuliah saja. Hmm semoga rezeki berpihak pada mereka.. Ujung-ujungnya paling kerja di luar jurusannya, atau bahkan tidak kerja, lanjut kuliah dan kuliah…. menurut saya, banyak kuliah tidak sepenuhnya bagus. Kalau jiwa ini sudah kaku, mau dikuliahkan setinggi apapun, tetap saja… kaku!

    Keren bat bang artikelnya! Share ah

    Salam dari saya, hotlasmore.id

    1. salam juga dari jogja kakak

  3. Jaman kuliah sayaaa jarang masuk malah mas, hehe. Lebih uprek belajar kerja di radio. Kuliah lebih sering nitip absen, ampe yang dititipin absen pada manyunn ๐Ÿ˜€

    Salam kenal
    Salam ODOP ๐Ÿ™‚

    1. wkwkwkw, sama

Tinggalkan Balasan

Close Menu