Input your search keywords and press Enter.

Catatan Dari Taman Kupu-kupu, Bandar Lampung

Bayangkan, coba bayangkan apa yang akan terjadi didunia ini apabila tidak ada kupu-kupu. Kita pasti tidak akan melihat suatu binatang yang sangat indah. Mulai dari keindahan warna, bentuk, corak maupun ukurannya.

Gambar

Setiap kupu-kupu memiliki kekhasan masing-masing sehingga dibutuhkan kemampuan khusus untuk menentukan kupu-kupu tersebut termasuk dalam jenis apa.  Cara paling mudah mengenali kupu-kupu adalah dengan cara mengetahui pohon atau tanaman inang apa yang digunakan kupu-kupu untuk bertahan hidup. Sebab setiap kupu-kupu memiliki pohon atau tanaman inang yang berbeda dan tidak bisa dipaksakan setiap kupu-kupu dapat bertahan disana.

Pohon atau tanaman inang adalah sumber makanan yang digunakan kupu-kupu untuk bertahan hidup. Bukan hanya itu, baik larva maupun pupa  juga akan bertahan hidup bila ada pohon atau tanaman inang. Luar biasanya, pohon atau tanaman inang ini dapat tercium kupu-kupu dari jarak lima kilometer.

Pohon inang yang ada dan cukup banyak ditanam adalah jeruk nipis, muraya, cempaka, sirih hutan, rumput babi, ketepeng dan beringin. Sedang inang dari jenis tanaman bunga berupa bunga pagoda, jarong, kembang sepatu, kembang sepatu, soka, kamboja, kamboja jepang, dan kembang merak.

Jadi tidak perlu mendatangkan kupu-kupu sebab mereka akan mendatangi pohon atau tanaman inang untuk bertahan hidup. Biasanya satu pohon atau tanaman inang ini hanya menjadi sumber makanan dari satu jenis kupu-kupu pula.

Setiap daerah memiliki kekhasan kupu-kupu. Hal tersebut disebabkan iklim yang ada dimasing-masing daerah. Kupu-kupu yang ada di daerah barat seperti Sumatera akan berbeda dengan kupu-kupu yang hidup di daerah timur seperti Papua. Kupu-kupu yang ada didaerah Sumatera akan jauh lebih kecil dengan kupu-kupu yang berada di daerah Papua.

Bentuk, warna, corak, ukuran selain dipengaruhi iklim suatu daerah juga dipengaruhi tempat dimana ia mengurung diri. Sebagai contoh jenis  Troides Helena yang banyak ditemukan di tanaman Aristolochia Tagala atau tanaman perepok. Lalu ada Graphium Agamemnon yang banyak ditemukan di tanaman bunga Cempaka. Sebab memang disanalah mereka mendapatkan identitas warna

Kedua spesies yang telah dinyatakan langka tersebut begitu special dan menarik karena pada tubuhnya dilengkapi perpaduan warna yang begitu mencolok dengan warna merah, hijau, kuning dengan kombinasi hitam dan putih. Sedang untuk ukurannya terbilang sangat besar untuk jenis kupu-kupu Sumatera.

Troides Helena sebagai famili dari Papilionideae ini menjadi ikon penelitian dan menandai keberhasilan penangkaran dan konservasi kupu-kupu di Suamatera.

Ditengah ketiadaan orang-orang yang peduli dengan kupu-kupu untung ada sosok Herawati Soekardi. Ia mungkin adalah ahli kupu-kupu pertama di Indonesia yang benar-benar konsen melestarikan kupu-kupu Sumatera.

Kecintaanya pada kupu-kupu mengantarkannya menjadi seorang doctor di bidang kupu-kupu. Semua itu berawal dari keprihatinannya akan minimnya ahli kupu kupu sampai ia sendiri kebingungan kemana akan bertanya seputar kehidupan kupu-kupu.

Selain melestarikan kupu-kupu menjadi hobi seluruh keluarga besar Herawati juga dirinya berpikir dengan melestarikan kupu-kupu secara tidak langsung akan menyelamatkan ekosistem. Keberadaan kupu-kupu secara tidak langsung akan menjaga rantai makanan agar tidak terputus.

Kupu-kupu sebagai herbivore akan menjadi konsumen konsumen tingkat pertama karena hanya makan daun-daunan. Kupu-kupu ini kelak akan menjadi makanan untuk penghuni rantai makanan tingkat berikutnya. Pemakan kupu-kupu ini biasanya berasal dari jenis burung ataupun serangga.

Herawati bersama keluarga dan para pekerjanya mengelola lahan seluas empat hektar lebih untuk menjaga kelangsungan berbagai jenis kupu-kupu. Lahan diatas ketinggian 460 meter diatas permukaan laut yang diberi nama Taman Kupu-Kupu kini ini telah dihuni tak kurang dari 130 jenis kupu-kupu.

Pada awalnya Herawati hanya mampu mendatangkan beberapa spesies pada tahun 1999 silam. Namun seiring waktu berjalan jumlah koleksinya makin bertambah banyak. Ia tak gentar harus naik turun bukit dan gunung hanya untuk mendapatkan kupu-kupu spesies baru.

Menurutnya ada tiga cara untuk mendatangkan kupu-kupu. Pertama kupu-kupu datang dengan sendirinya karena kebetulan dilahan tersebut telah ada pohon atau tanaman inangnya. Kedua kupu-kupu tersebut adalah hasil penangkaran yang diupayakan. Ketiga, kupu-kupu tersebut merupakan hasil perburuan di pulau-pulau di sekitar Pulau Lampung.

Usaha yang dilakukan Herawati bersama Gita Persada adalah melakukan rekayasa habitat atau membuat habitat baru semirip mungkin dengan habitat aslinya. Rekayasa habitat ini dimulai dengan menanam pohon inang pada lahan kritis di kaki Gunung Betung, tepatnya di Desa Tanjung Manis, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung.

Bukan hanya itu Herawati juga menyediakan kolam-kolam buatan yang bisa digunakan kupu-kupu untuk mencari air. Selain itu dirinya tidak melakukan treatment atau rekayasa dengan teknologi tinggi. Semua rekayasa dilakukan secara alami, campur tangan manusia hanya untuk memudahkan proses metamorfosis dan bertahan hidupnya.

Usahanya kini telah membuahnya hasil. Gita Persada dapat dinikmati banyak orang, bukan hanya untuk rekreasi atau cuci mata tapi juga dapat digunakan sebagai sarana penelitian. Ribuan siswa pernah berkunjung ke Gita Persada. Begitu pula puluhan peneliti pernah belajar disini.

Saat ini Gita Persada sedang menuju ekowisata. Satu tempat dimana pengunjung dapat menikmati keindahan panorama alam yang dipenuhi kupu-kupu yang beterbangan bebas. Habitat alam bebas yang tepat menjaga kelestarian alam sehingga keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Berhubung rekayasa habitat ini sifatnya alami maka hasil dari rekayasa hanya akan berada disekitarnya. Namun bila ada kupu-kupu yang memilih pergi itupun tidak menjadi masalah karena siklus kupu-kupu ini cukup cepat. Baik dari proses telur menjadi larva kemudian berubah pupa ataupun menjadi kupu-kupu.

Kupu-kupu mengalami metamorfosis sempurna yang tidak dialami hewan yang lainnya. Ia mengalami tahapan yang lebih panjang ketimbang hewan lainnya sebelum menjadi kupu-kupu. Pertama kali, kupu-kupu akan bertelur. Telur ini biasanya akan menempel pada daun yang tidak jauh dari sumber makanannya bila kelak menjadi ulat.

Setelah ulat menjadi besar dan memanjang, ia akan berubah menjadi kepompong (pupa atau chrysalis). Dii dalam pupa cairan pencernaan akan dikeluarkan untuk menghancurkan tubuh larva, menyisakan sebagian  sel.

Tak lama kemudian akan tumbuh menjadi dewasa menggunakan nutrisi dari hancuran tubuh larva. Setelah beberapa lama, dari kepompong tersebut akan keluar seekor kupu-kupu yang masih muda. Meski masih kupu-kupu muda ia telah siap untuk kawin.

Herawati berpesan agar tidak lagi ada yang membunuh atau mematikan pohon atau tanaman inang. Sebab matinya pohon inang menjadi bencana awal dari putusnya rantai makanan yang artinya sama saja merusak keseimbangan ekosistem.

Tidak adanya pohon inang berarti tidak memberi kesempatan kupu-kupu hidup. Hal itu sama saja tidak memberi kesempatan burung ataupun serangga makan kupu-kupu.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat