Cita-Cita yang Tertunda, Menggabungkan Passion dan Hobi

Dulu bocah itu tumbuh tanpa mimpi. Memiliki kapasitas pas-pasan karena harus menyelesaikan sekolah dasar hingga 7 tahun. Bocah yang kurang suka belajar dan waktunya lebih banyak di habiskan bersama sahabatnya.

main di sungai
pixabay.com

Semua berjalan apa adanya tanpa tendensi untuk berusaha lebih baik. Menjalani hari demi hari layaknya anak kampung pada umumnya.

Sekolah ya sekolah setelah itu ya main ke sawah atau ke sungai. Tiap hari berangkat sekolah tanpa alas kaki alias nyeker. Menggunakan baju lusuh tanpa gesekan setrika adalah hal biasa.

Buku yang dibawa tak perlu banyak. Cukup satu buku dan kemudian di lipat kemudian masuk kantong belakang. Gagah rasanya saat itu dimana sekolah berlenggang kangkung tanpa harus bawa beban di punggung.

Selanjutnya saat pulang sekolah adalah surga. Dimana kala itu tak perlu langsung bisa pulang ke rumah tapi bisa main ke mana saja.

Ingat betul saat itu tiap hari adalah sebuah kebahagiaan. Mimpi terburuk itu datang seminggu sekali saat ada ulangan matematika.

Tak ada gadget, yang ada hanya keindahan alam dan keseruan bersama teman sepermainan. Mandi di sungai, memanjat pohon, ‘mencuri’ pohon tebu itu hal lumrah dan kini bagi kamu yang saat ini bisa melakukan tentu menjadi sebuah kemewahan.

Hanya tersenyum bila ada yang bertanya, saat kecil cita-cita kamu apa karena sejatinya memang tak ada. Hingga kini pun dapat dikatakan demikian, yang ada hanya keinginan untuk mencoba berbagai profesi berbeda.

Keinginan tersebut baru muncul saat duduk di bangku kuliah. Di usia 20+ yang bagi mayoritas orang dikatakan terlambat untuk berbicara cita-cita.

Tak perlu waktu lama, kala itu konon profesi paling menantang adalah seorang jurnalis atau wartawan. Bagaimana ia menjadi orang pertama yang akan tahu akan sebuah peristiwa.

Benar saja, kurang dari 4 tahun pasca menemukan cita-cita (keinginan, red) itu kesampaian. Bergabung di salah satu media terbesar di tanah air dan melakoni di tanah Sumatera.

Namun setelah belasan bulan melokoni terbersit obsesi masa lalu dimana kebetulan ia memiliki teman yang memiliki hobi traveling. Wajar saja orang tuanya adalah salah satu orang besar di BUMN.

Berupaya bagaimana obsesi dan ambisi tersebut terlakoni dan ternyata salah satu jalan harus tergabung tim Human Capital. Lagi-lagi, ternyata pilihan ini hanya berjalan belasan bulan dan muncul hasrat untuk pulang kampung.

Mencoba mengubur cita-cita (keinginan, red) karena harus ada keputusan hingga kapan akan no maden atau pindah dari satu kota ke kota lain. Jogja kembali menjadi tujuan dan mulai membangun mimpi.

Mencoba menggabungkan keduanya kini telah ditemukan formula yang tepat. Menjadi seorang blogger kemudian menjadi pilihan atau jalan hidup.

Bagaimana kegiatan menulis dan mencari informasi masih terus berjalan. Kegiatan tersebut bersinergi dengan kegiatan jalan-jalan. Tak perlu berbulan-bulan, cukup beberapa saat saja tapi bisa memilih banyak rute.

Setelah di telisik embrio penggabungan keduanya itu terjadi pada 2014 dengan hadirnya Kanal Jogja. Sebuah wadah yang sebelum tercipta dikonsep cukup matang dengan membuat blueprint. Bukan hanya sekedar untuk menulis artikel tapi bagaimana kegiatan jalan-jalan masih bisa berjalan.

Sejatinya tak pernah menyangka bila kemudian ada rasa tumbuh dengan sempurna. Padahal dulu waktu kecil hanya menjadi pribadi pemalu dan tanpa keberanian untuk melakukan hal lebih.

Jangan pernah takut untuk mengejar mimpi. Proses panjang mungkin harus dilewati dan bila saatnya tiba maka kamu akan memetiknya.

Belajar dan terus belajar karena hal itu akan memperkaya wawasan. Ingat semua orang itu guru tinggal bagaimana cara kita memadang. Lihatlah pisau, ia bisa membantumu meraih sukses bisa juga membunuhmu.

Tinggalkan Balasan

Tautan komentar adalah nofollow free.

Close Menu