Input your search keywords and press Enter.

Kota Paling Timur

“Jok, cobain deh abon gulung ini,” kata Pak Anggi sambil menyodorkan dus berwarna merah. Kata-kata itu masih saja terngiang-ngiang sampai sekarang. Dulu sama sekali tidak pernah terbesit sampai kota Manokwari, akhirnya sampai juga dikota yang popular dengan abon gulungnya ini.

pasirputihmanokwari.blogspot.co.id

Pantas di amini kalau abon gulung ini memang enak. Rasanya full daging dibungkus tepung terlebih saat dinikmati dalam keadaan hangat di pagi hari.

Tak lama setelah itu ternyata harus ke Manokwari juga untuk mencari karyawan dalam rangka pembukaan cabang baru. Ingat betul saat itu berangkat dari kota Ambon Jumat pagi pukul 05.00 WIT. Pesawat berangkat sekitar pukul 06.00 dan sekitar satu jam kemudian sampai di Manokwari.

Untung alhamdulilah disana sudah ada jemputan. Kalau saja tidak ada jemputan, mau kemana kaki ini melangkah tidak tahu. Pagi itu juga kita langsung meluncur ke Billy Jaya Hotel, sesampai di hotel dan berkemas kita pun meluncur ke Dealer Ford di Jalan Trikora Wosi untuk melihat berkas pelamar yang ada.

Pagi itu juga langsung dilakukan pemanggilan kepada kandidat untuk mengikuti proses seleksi pada hari yang sama pada jam 14.00 WIT. Lumayan setidaknya ada belasan pelamar yang bisa diproses pada hari pertama.

Mengingat jumlah pelamar sangat minim akhirnya kuputuskan untuk ke Kampus Universitas Negeri Papua. Tak tahu negeri macam apa, baru kali pertama datang pada hari pertama langsung berburu kampus dan berharap ada sourcing.

Tuhan memang maha baik, bagaimana tidak ketika saya sampai dalam satu kota yang begitu asing bisa dipertemukan dengan orang satu daerah. Faktor kedaerahan dan senasib jadi perantauan itulah yang mungkin bisa mendekatkan kami.

Pertemuan tak lebih dari 30 menit menghasilkan suasana yang begitu menyenangkan seoleh tak mau mengakhiri pembicaraan. Tapi harus tetep istiqomah, tiga hari di Manokwari semua harus kelar.

Dari pembicaraan tersebut saya mendapatkan buku alumni Unipa dan beberapa pengurus UKM yang aktif sebagai referensi. Setelah selesai berburu data selanjutnya kembali ke Dealer Ford sebagai base camp dari seluruh proses rekruitment.

Berhubung hari itu saya ikut atasan yang kebetulan dapat undangan makan siang akhirnya hanya bisa mengiyakan tanpa mampu menolak.

Peristiwa yang luar biasa kembali terjadi, dalam makan siang tidak lebih dari satu jam ku lihat dengan mata kepalaku sendiri negosiasi kredit senilai Rp 1 miliar terjadi, ruar biasa… Sebuah angka yang fantastis bukan.

Usai makan siang proses rekruitmen dimulai pukul 14.00 sampai magrib. Untung kembali untung pada saat itu juga Pak Anggi selaku user bisa langsung melakukan interview pula. Coba kalau tidak ada, bisa berantakan atur jadwal ulang.

Kembali ke hotel pekerjaan masih menunggu, selain koreksi hasil psikotes masih juga diharuskan untuk memanggil kandidat lain yang sekiranya besok bisa mengikuti proses seleksi karyawan baru.

Sabtu rutinitas sebagai tester kembali berlanjut seperti biasa. Tak ada yang spesial semua berlalu seperti hari-hari sebelumnya.

Hari yang luar biasa kembali terjadi pada hari Minggu. Dimana pekerjaan telah selesai dan ada waktu luang untuk liburan dikotayang terkenal dengan abon gulungnya ini.

Sebelum pulang ke Ambon menyempatkan diri untuk mengenal lebih dekatkotayang telah memberlakukan perda tentang miras ini.

Salah satu tujuan yang di datangi adalah Pantai Bakaro. Pantai dengan tradisi unik melalui upacara pemanggilan ikan. Sesuatu yang tidak pernah kutemukan di pantai manapun tapi di Teluk Manokwari ini ada.

Dengan alat sederhana berupa peluit dan umpan dari rayap pohon ikan-ikan pun berdatangan. Salah satu keunikan yang bisa didatangi langsung oleh pengunjung untuk melihat ribuan ikan berdatangan.

Ada mitos yang berkembang bahwa masyarakat tidak boleh mengambil ikan yang datang dalam acara ritual pemanggilan ikan. Ikan itu hanya boleh dilihat.

Menurut beberapa sumber tidak boleh di ambilnya ikan ini dikarenakan sudah terlalu banyak orang-orang tidak bertanggung jawab mengambil ikan dengan cara bom. Lebih tragisnya dari semua ikan yang mati mereka hanya mengambil ikan besar. Sedang ribuan ikan kecil dibiarkan mati mengambang mengotori pantai.

Selain Pantai Bakaro ada juga rumah dinas pejabat daerah yang ada diatas bukit. Konon pada malam hari bukit itu dijadikan sarana berkumpul anak muda sambil melihat kota Manokwari.

Hmmm, meski belum sempat melihat indahnya kota pada malam hari tak apalah setidaknya pernah menginjakkan kaki ini disana. Terima kasih Tuhan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat