Likuifaksi “Tanah Bergerak,” Bahaya Mengancam Usai Gempa

Beberapa bulan lalu, tepatnya Oktober 2018 muncul satu istilah yang kemudian booming pasca gempa yang mengguncang Palu dan Donggala. Namun seringkali kita tidak tahu apa itu likuifaksi atau dalam bahasa sederhana dapat dikatakan sebagai tanah bergerak.

palu likuifaksi
geologi.co.id

Merujuk pendapat beberapa ahli dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) likuifaksi dapat dikatakan sebagai penurunan tanah akibat memadatnya volume lapisan tanah. Peristiwa mengerikan ini acapkali muncul usai gempa bumi.

Ketika ada yang bertanya, “Kenapa saya menulis tentang likuifaksi Palu” maka dengan mudah saya akan menjawab. Kebetulan saya pernah berada di salah satu kota yang dilewati garis khatulistiwa ini beberapa tahun lalu. Dan mungkin bila berjodah maka saya akan mengulang kembali makan pecel lele di warung mas Joko.

Kembali ke pembahasan awal di mana wilayah yang berpotensi terjadi likuifaksi adalah daerah-daerah dengan tanah yang kaya akan kandungan air. Hal ini terlihat jelas pada peristiwa setelah gempa di Palu dan Donggala yang terjadi pada 28 September 2018 lalu.

Tak hanya Palu dan Donggala, ternyata selain wilayah di Sulawesi tersebut masih ada beberapa peristiwa tanah bergerak.

Wilayah tersebut antara lain Bantul, Jogja, Sumbawa, dan Lombok. Hanya saja kekuatan tanah bergerak tersebut tidak sedasyat gempa Palu dan Donggala.

Adapun beberapa ciri awal tanah bergerak antara lain kemunculan semburan pasir dan air merembes melalui rekahan tanah. Dalam taraf besar ditandai dengan amblesnya bangunan, turunnya permukaan tanah dan perpindahan material atau tanah.

Tanpa pernah diduga, bila sebelumnya publik hanya dibuat takut akan bahaya atau potensi tsunami yang berasal dari tengah laut. Tanah bergerak ini akan muncul tiba-tiba dari dalam tanah. Ciri-cirinya pun tidak mudah dikenali lain halnya dengan tsunami yang ditandai dengan surutnya air laut sebelum menghantam daratan.

Likuifaksi juga dapat dikatakan sebagai hilang atau menurunnya kekuatan tanah sebagai akibat meningkatnya tekanan air di dalam tanah. Dengan kata lain tanah tak lagi memiliki daya ikat dimana seharusnya tanah itu padat menjadi cair atau tepatnya likuid.

Dari beberapa gambar yang terekam di Palu, khususnya di wilayah Petobo terlihat dengan jelas dimana tanah kehilangan kekuatan penopang hingga bangunan amblas ke dalam tanah. Tak heran bila warga yang selamat mengatakan seolah mereka melihat tanah yang di pelintir.

Tak hanya itu, berdasar penelitian atau survey yang dilakukan pihak Geologi AS setidaknya masih ada beberapa efek lain yang siap mengancam siapa saja yang ada dalam area tersebut.

Tanah bergerak ini dapat meluncur pada lereng atau menuju aliran sungai. Seperti yang kita ketahui bahwa sifat benda cair atau liquid itu menuruni permukaan.

Pada daerah atau zona berpasir likuifaksi dapat menyebabkan letusan pasir. Air yang bercampur pasir tersebut dapat menyembur dan biasanya ditandai dengan adanya gunung berapi pasir. Akibat dari letusan ini adalah tanah disekitar akan retak dan mengendap.

Lain cerita bila dalam tanah dengan komposisi pasir tersebut terdapat bebatuan. Bisa saja tanah bergerak ini akan meluncur dengan deras tapi sebaliknya bisa juga terhambat karena materi cadas tersebut.

Bahaya lain atau efek yang akan muncul dari peristiwa tak biasa ini adalah flotasi. Dimana berbagai struktur ringan dalam tanah dapat mengembang. Hal ini biasanya terjadi pada seloka, saluran air ataupun tangki bahan bakar.

Tak perlu waktu lama, dalam kurun kurang dari 14 hari tanah mengendap dengan sangat keras. Endapan ini juga dirasakan warga saat kembali ke area likuifaksi hendak menyelamatkan harta yang tersisa.

Dan terakhir sebagai efek tanah bergerak adalah osilasi. Disini tanah yang ada dipermukaan akan bergerak di atas lapisan cair. Hal ini kemudian juga akan merubah struktur tanah.

Kini menjadi penting bagi kita semua, tak lagi hanya tanggap darurat terhadap tsunami dengan adanya peringatan dini. Likuifaksi sebagai akibat gempa pun harus mendapat perhatian lebih agar tidak memakan banyak korban.

Hingga saat ini belum ditemukan cara untuk selamat dari bahaya ini. Namun pemerintah bisa lebih tegas untuk melakukan pemetaan wilayah hingga ditemukan area mana saja yang berpotensi.

Langkah selanjutnya tentu saja pengetatan dalam pendirian bangunan. Jangan sampai dikemudian hari amblas ditelan bumi karena salah peruntukkan.

Hal cukup menarik di sampaikan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA dimana mereka mengungkap fakta baru. Menurut mereka gelombang seismik bergerak dengan kecepatan super menelusuri sesar Bumi. Konon kecepatan tersebut melebihi batas kecepatan geologis yang artinya likuifaksi Palu menjadi fenomena luar biasa.

Hal tersebut dibenarkan warga bahwa mereka merasakan getaran yang jauh lebih kuat. Jadi bisa di duga kekuatan tersebut memiliki daya lebih daru 7,5 skala Richter.

Guna membuktikan fenomena tersebut maka para ahli melakukan analisa pengamatan resolusi tinggi spasial terhadap gelombang seismik yang disebabkan gempa bumi. Masih menurut para ahli getaran gempa di palu memiliki kecepatan konstan hingga 14,760 km/jam dengan durasi satu menit.

Bila dibandingkan dengan gempa bumi pada umumnya terdapat selisih yang cukup besar dimana biasanya hanya memiliki kecepatan antara 9 hingga 10,8 km/jam.

Gempa telah usai dan itu semua mengingatkan kita bahwa alam lebih kuasa daripada manusia. Ingat hukum tebar tuai dimana manusia bisa saja berbuat apa saja tapi kemudian bila alam tak bersahabat maka akan merenggut dalam sekejab.

Tinggalkan Balasan

Tautan komentar adalah nofollow free.

Close Menu