Menembus Batas dan Karma Itu Nyata (Part 1)

Menembus batas dan karma itu nyata, 2 hal yang senantisa membuntuti saya sejak lulus SD hingga saat ini. Hal-hal yang nampaknya tidak rasional tapi benar-benar terjadi.
facebook.com/groups/xgodean1
Menembus batas yang pertama tentu saja saat kelulusan sekolah dasar. Saya katakan menembus batas karena semua di luar nalar dan ekspektasi.

Oh ya saya berasal dari SD Karanglo yang ada di Desa Sidomoyo, Kecamatan Godean, Sleman. Peristiwa ini terjadi pada hampir seperempat abad yang lalu.

Ingat betul saat itu sebelum kelulusan sekolah kami harus menghadapi serangkaian ujian dan salah satunya adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dan benar saja saat itu saya tak mulus menyanyikan lagu karya WR Supratman hingga guru saya mengatakan, “beruntung kamu itu orang Indonesia asli coba kalau bukan sudah di usir.”

Satu hal yang hingga saat ini menjadi momok dengan pelajaran kesenian. Meski nilai ujian mata pelajaran ini jeblok saya bisa menjadi peraih nilai 4 besar dalam ujian nasional di kelas.

Hal yang sangat sulit dipercaya mengingat tak ada tanda-tanda kecerdasan. Lulus SD saatnya berpetualang dan di kecamatan saya tinggal ada 3 SMP yang dikatakan favorit mulai dari SMP 1 Godean, SMP 2 Godean dan SMP 3 Godean.

Entah setan mana yang menggiring saya untuk melabuhkan tujuan pada SMP 1 Godean. SMP yang dikenal dengan orang-orang pintar ini pun saya jajaki. Jujur tak pede saat itu melihat nilai ujian akhir mereka hingga 46 sedang saya bermodal nilai 40 koma sekian.

Setelah beberapa hari di umumkan siapa saja yang lolos dan nama saya bercokol di nomor (kalau tak salah) 140 diantara 160 siswa yang diterima. Berada di kumpulan orang-orang hebat setidaknya membuat saya malu bila tak belajar.

Bila mereka yang memiliki ketercukupan biaya tentu akan ikut les di sekitar pasar Godean. Kala itu yang populer ada lembaga bimbingan belajar Mataram College. Saya yang berasal dari keluarga tak mampu hanya bisa melihat mereka pulang sekolah untuk belajar kembali hingga magrib.

Ingin rasanya mencicipi bangku les yang konon mereka diajarkan rumus atau cara menyelesaikan soal yang tak diajarkan di sekolah. Sedih juga tiap kali ada ujian atau “ulangan” harus mencari tempat untuk bisa mencontek atau syukur-syukur dapat sedekah dari mereka yang lebih ahli.

Kelas 1 SMP menjadi masa paling indah dan mungkin tak akan terlupakan. Terlebih kala itu saya mengenal cinta monyet atau tepatnya kekaguman berlebih pada sosok perempuan.

Mengenalnya secara pribadi mungkin tak lebih dari 3 bulan.Hanya sesaat dan kenangan tersebut hingga saat ini masih membekas. Setidaknya namanya masih akan terus kutuliskan saat membubuhkan tanda tangan.

Penasaran dengan sosok wanita hebat itu. Temukan di Part 2 ya

Tinggalkan Balasan

Tautan komentar adalah nofollow free.

Close Menu