Menjadi Jurnalis itu (tidak) Mudah dan Saya Gagal

Memutuskan menjadi seorang jurnalis bukan perkara mudah. Banyak hal yang menjadi pertimbangan ketika seseorang masih bertahan hingga sekarang.

Dan mungkin saya salah seorang yang gagal akan komitment tersebut. Besarnya tanggung jawab dan resiko diemban seolah membuat saya berpikir realistis.

Saya tidak sanggup menjalani profesi yang identik dengan idealisme tersebut. Mampu menyajikan berita dengan berimbang tanpa ada kepentingan pribadi atau golongan.

Disisi lain setiap orang pastilah ada kepentingan yang harus dituntaskan. Bekerja siang malam tanpa mengenal lelah untuk menyajikan informasi terkini.

Meski demikian akurasi informasi yang diberikan harus valid. Sebisa mungkin mendapat informasi dari sumber pertama dan utama jadi tidak ada lagi, “katanya”.

Mungkin saya tak memiliki pengalaman heroik dan penuh drama saat liputan. Tapi minimal pernah liputan yang menguras air mata.

Dan kabar baiknya dari apa yang kita tuliskan mereka terbantu. Memberi manfaat bagi orang lain tentu adalah sebuah kebahagiaan.

Dari sinilah kali pertama saya tahu dunia malam. Tentang narkoba, perempuan nakal, minuman keras dan seluk beluk kenikmatan dunia bisa disaksikan dari dekat.

Disini pula awal memiliki akses ke orang-orang penting. Bagi kebanyakan orang yang susah atau bisa dibilang tak mungkin bertemu orang penting atau pejabat tapi kami semua begitu mudah berkomunikasi dengan mereka.

Tak lama memang berada didalamnya. Tapi minimal saya bisa belajar tentang kerja keras, vitalitas dan bekerja tak kenal lelah.

Profesi ini pula yang mengajarkan saya tentang menulis. Saat mayoritas orang mengatakan begitu susahnya untuk menulis tapi menjadi sesuatu yang biasa.

Bagaikan bernafas, mengalir apa adanya dan bila berhenti menulis seolah sesak di dada langsung menjalar. Bagaikan darah yang harus selalu dialirkan dan dipompa terlepas bagus tidak itu darah.

Proses menjadi jurnalis hanya bertahan 13 bulan dan selanjutnya berpikir ulang. Ada hal lain yang harus dikejar dan diperjuangkan.

Keliling Indonesia menjadi impian yang harus dituntaskan. Mencoba mencari pekerjaan sesuai dengan ‘passion’ sembari berkunjung ke kota lain akhirnya terjawab.

Human Capital Area seolah menjadi profesi terbaik sekaligus jawaban. Dan benar saja berangkat dari pekerjaan ini mengantarkan saya untuk menjelajahi beberapa pulau di tanah air.

Dalam hitungan bulan tak hanya belasan tapi puluhan kota bisa didatangi. Meski hanya dalam hitungan hari minimal kaki ini meninggalkan jejak.

Kerja dengan cara yang normal, dari pagi hingga sore bekerja. Malamnya giliran menyelesaikan misi tertunda.

Tak jarang saat berkunjung ke kota yang baru akan balik ke hotel pukul 11 malam atau dini hari. Semua itu hanya untuk hasrat untuk merasakan sensasi dikota orang.

5 komentar pada “Menjadi Jurnalis itu (tidak) Mudah dan Saya Gagal”

  1. Iya bener mas, susahnya menyajikan berita yang benar2 tidak berpihak.. Tuntutan perusahaan mau gak mau harus dijalankan dan itu bertolak belakang dengan nurani kita…alhasil kadang hasilnya seukit menyimpang…

  2. Duluuuu banget zaman smp, cita2ku itu jd jurnalis. Kayaknya seru bisa jalan2 cari berita, nulis berita, dan semuanya itu. Apalagi aku suka nulis. Tp setelah kuliah, berubah pikiran sih mas, krn ngeliat kerja jurnalis ya ga gampang.. Dan kdg keras yg hrs dihadapi yaaa. Sadar diri, aku ga seulet itu sih mencari/menghubungi narasumber, kerja lapangan demi berita :D. Kena matahari aja lgs pusing :p.
    Memang passionku bukan di sana berarti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *