Menjadi Tukang Tambal Ban adalah Cita-Cita Berikutnya

Last Updated on 11 Januari 2020 by Joko Yugiyanto

Menjadi tukang tambal ban untuk sepeda dan motor adalah cita-cita berikutnya. Salah satu profesi yang unik tentunya, membantu mereka yang kepayahan saat ban sepeda atau motor bermasalah.

Saya pun sama seperti kamu pernah merasakan mendorong motor dalam kondisi kempes. Berjalan puluhan meter hingga ratusan meter untuk menemukan seseorang yang ahli atau setidaknya mampu menyelesaikan masalah terkait ban kurang angin.

Berat memang tapi itu harus dilalui dan tak mungkin kita akan meletakkan sepeda atau motor sembarangan pada suatu tempat. Kecuali memang kita paham betul situasi, kondisi dan lingkungan. Bila tidak yang ada kemudian sepeda atau motor hilang di ambil orang.

Hidup pun demikian, berat atau ringan beban yang ada tetap harus disertakan. Tak mungkin juga kita lepas dari tanggung jawab yang harus ditunaikan.

Belajar dari para tukang tambal ban saya bisa belajar banyak dan beberapa hal yang saya pelajari adalah;

1. Percaya bahwa rezeki itu telah disiapkan

Senantiasa percaya bahwa tiap individu itu telah disiapkan rezeki oleh Tuhan. Kita sebagai manusia hanya perlu percaya tak ada mahluk yang tidak akan ditolong oleh-Nya.

2. Bersabar

Sering kita melihat para tukang tambal ban ini stand by satu kali 24 jam. Tetap menanti meski tanpa kepastian. Lain hal bila mereka tidak bersabar mungkin hanya akan buka usaha ini office hour dari jam 9 pagi hingga 5 sore saja.

3. Ketrampilan

Untuk bertahan hidup saya percaya seseorang butuh 1 ketrampilan saja. Tak perlu banyak tapi harus fokus dan mumpuni. Tak hanya menjalani profesi unik ini saja tapi hampir semua hal dalam hidup ini.

4. Menolong itu membahagiakan

Alasan terakhir ini tentu saja alasan saya secara pribadi. Bagaimana tidak setiap orang yang mendapati ban kempes pasti cembetut. Lain hal bila kemudian ia mendapati ban motor telah kenyang dengan angin.

Selain 4 hal diatas tentunya masih ada banyak hal yang bisa dipelajari dari tukang tambal ban. Dan mungkin kamu mau menyertakan satu alasan kenapa saya harus memilih profesi ini menjadi cita-cita di kolom komentar di bawah ini.

21 pemikiran pada “Menjadi Tukang Tambal Ban adalah Cita-Cita Berikutnya”

  1. Begitulah kehidupan yaa kak. Dari sebuah profesinya penambal ban pun kita bisa Mengambil hikmah. Intinya apapun profesinya selama itu positif, insya Allah baik untuk dikerjakan.

    Balas
  2. Sederhana sih idenya, tapi menarik. Penulisnya melihat hal yang sangat sederhana dalam kehidupan sehari-hari lalu dicari manfaatnya buat pembaca. Hanya kesan pribadi kemasannya ceritanya masih agak mentah…. Kalau ide ini dimasak lagi untuk lebih matang lagi, pasti akan jadi sesuatu yang sangat menyentuh.

    Balas
  3. Ikhlas, saya pernah kena musibah ban bocor kena paku. Tapi waktu itu posisinya nggak punya uang buat nambal ban, akhirnya saya kasih tau keluh kesah saya ke tukang tambal ban. Alhamdulillah dia saya dikasih gratis, sampe sekarang nggak lupain jasa dia yang udah bantu saya. Nggak ngerti saya kalau nggak ada dia saya harus gimana.

    Balas
  4. Wah, sebuah cita-cita unik anti mainstream. Sangat jarang sekali ada orang yang memiliki cita-cita menjadi tukang tambal ban, walaupun terlihat rendah namun dibalik sosok tukang tambal ban ini tersimpan banyak sekali kebaikan dan kemuliaan serta kesabaran dalam melayani semua customernya, ya!

    Balas
  5. Apapun pekerjaan.y selagi membantu orang lain pasti nyaman untuk dijalaninya, termasuk jadi tukang tambal ban. Kalo ban bocor, abang2 tambal ban penyelamat banget, tanpa dia nggak bisa pulang wkwk

    Balas
  6. mas joko hatinya sensitif bangeet, bahkan aku suka cuek aja lihat tukang tambal ban yang kayaknya jarang tutup yaah. Duh, aku pernah bocor di daerah gunung kidul mas dan harus dorong motor jauh banget nyari tambal ban, makannya tambal ban itu berjasa banget yaaah 😀

    Balas

Tinggalkan komentar