Miris Dua Sisi, Wajah Tenaga Kerja Kita

Miris dua sisi, mungkin itu istilah yang pas untuk menggambarkan kondisi wajah tenaga kerja kita. Bagaimana tidak disatu sisi mereka mengeluh kepayahan mencari pekerjaan disisi lain kita selaku Human Capital (HC) kesulitan mencari sumber daya manusia.

Tidak ketemu titik temu, dimana setiap kandidat atau pencari kerja memiliki ekspektasi tinggi tapi tidak didukung kompetensi memadai. Dilain pihak perusahaan memiliki standarisasi untuk masing-masing posisi yang tidak semua orang mampu menempatinya.

Beberapa kali saya mewakili perusahaan mengikuti bursa kerja atau jobfair. Jumlah pencari kerja tumpah hingga terjadi antrian panjang di pintu masuk.

Bahkan dalam satu waktu saat digelar jobfair di Gelora Bung Karno tercatat tak kurang 100 ribu pencari kerja datang. Berharap mendapat satu pekerjaan impian dimana bukan hanya memberi upah yang layak tapi juga menyediakan karir dan kesempatan berkembang.

Mereka berlomba untuk meninggalkan jejak semisal dengan drop CV atau mengisi formulir daftar hadir. Berharap kelak nama mereka menjadi salah satu yang dipanggil.

Beruntung bagi mereka yang dipanggil untuk mengikuti psikotes atau interview. Bukan perkara gampang rupanya, hanya sekedar menyelesaikan soal tes standar saja banyak yang tumbang.

Terlebih di sesi interview dimana sering terdapat pertanyaan jebakan. Di bolak-balik dengan dua atau tiga pertanyaan dan gugur kemudian.

Rasa prihatin sering kali muncul dengan kandidat yang “lupa”. Lupa dimana kadang ia tidak mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja.

Generasi 3K di era milenial ini begitu mudah ditemukan. 3K sendiri adalah Kampus, Kantin, Kos. Satu ritus yang mudah ditebak dimana mereka akan mudah ditemukan diantara ketiga K tersebut.

Sering berharap bertemu kandidat anti mainstream diluar 3K. Dimana di kampus ia juga aktif berorganisasi. Kegiatan kampus menjadi garansi bahwa ia akan lebih siap bersaing dengan kandidat pada umumnya.

Tak cukup bermodal nilai Index Prestasi Komulatif 3,5 atau rerata A. Nilai tersebut hanya menang diatas kertas dan biasanya akan terseok-seok di dunia nyata.

Bahkan kalau boleh memilih, saya pribadi bila mencari kandidat tergiur mereka yang aktif di organisasi. Dalam satu bulan entah berapa ratus lamaran yang masuk.

Tak pernah sekalipun saya perhatikan nilainya karena rata-rata minimal 2.75 telah cukup. Hanya mereka yang memiliki pengalaman lebih yang akan diproses diawal.

Dan bila kamu kebetulan masih kuliah gunakan waktu itu untuk menimba ilmu diluar kampus. Atau kamu akan bersiap di telan jaman karena memiliki wajah tenaga kerja yang biasa saja.

2 komentar pada “Miris Dua Sisi, Wajah Tenaga Kerja Kita”

  1. Memang kondisi yang prihatin Mas. Di satu sisi banyak calon pekerja yg butuh kerja.

    Di sisi lain, banyak perusahaan yang terpaksa menolak para pelamar krn memang gk masuk kualifikasi.

    Semoga kedepannya semua pihak bisa bekerja sama utk meningkatkan kapasitas diri.

    Demi masa depan yg lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *