Mulutmu Harimaumu, Peran Pemuka Agama dan Guru di Tahun Politik

meme politik

Mulutmu harimaumu, satu mantra yang saya dapat dari Kang Bolot. Salah seorang rekan di organisasi Mahasiswa Pecinta Alam Mahapala Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Mantra yang begitu kuat melekat dalam diri ini dimana bahwa seorang laki-laki akan dinilai dari apa yang dikatakan kemudian dilakukan. Bukan hanya berkoar-koar tanpa tindakan nyata.

Selalu menagih apa yang telah diucapkan membuat saya berhati-hati bila berucap. Bila tidak yakin bisa tunaikan lebih baik diam.

Semua orang haruslah begitu terutama bagi mereka yang memiliki profesi pemuka agama dan pendidik. Guru yang merupakan padanan kata “digugu lan ditiru” hendaknya menjadi pengingat bahwa apa yang dikatakan adalah yang baik-baik.

Benar kiranya politik tak dapat dipisahkan dari agama. Dan benar pula bila politik tak dapat dipisahkan dari pendidikan.

Tiga hal yang sangat terkait satu dengan yang lain, Tetap perlu diingat semua ada porsinya. Bukankah Tuhan menciptakan sesuatu untuk saling melengkapi.

Namun akan sangat konyol bila politik menjadi tidak beradap karena ulah mereka yang ngaku beragama. Pun demikian, mereka yang ngaku berpendidikan justru memperkeruh politik.

Terlebih di tahun politik bahwa mereka yang tidak bermain politik praktis pun kena imbasnya. Sebuah perdebatan yang seharusnya hanya adu gagasan dan ide merembet kemana-mana.

Hanya saja mereka yang berlatar belakang positif dan potensial (baca: ulama dan guru) harus lebih mawas diri. Jangan sampai apa yang diujarkan akan diyakini publik.

Bila mereka yang berujar orang awam tentu tak masalah, tak akan ada yang menggunakan dalil mulutmu harimaumu. Orang Jawa bilang, “anget-anget tai ayam”. Setelah itu ya sudah selesai.

Lain halnya bila yang berujar itu adalah seseorang yang terpandang, yang dituakan, yang dihormati. Yang bisa saja ia memiliki pengikut atau follower dan kemudian diamini.

Seolah menjadi panggung untuk menunjukan eksistensi diri. Panggung yang besar tentu butuh jiwa besar, butuh sebuah kedewasaan bukan sikap kekanak-kanakan.

Konstalasi politik adalah sesuatu yang lumrah. Menang kalah, dipilih atau tidak dipilih adalah sebuah keniscayaan.

Mari sikapi tahun politik yang akan segera tiba dengan bijaksana. Tempatkan diri sesuai porsinya kecuali memang ingin mengambil jatah kue.

Bila tidak tentu akan seperti pepatah, “menang jadi arang kalah jadi abu”. Tak ada yang diuntungkan dari sesuatu yang tak pantas diperdebatkan.

Keterbatasan diri hendaknya menjadi alasan untuk seseorang selalu mawas diri dan terus belajar. Jangan terlalu percaya diri untuk mengumbar gagasan karena diatas langit masih ada langit.

Cukuplah memperhatikan akrobat yang ada tanpa mengolok-olok mereka. Bila kita hanya mengkritisi diluar panggung tak ubahnya tong kosong nyaring bunyinya.

Semoga tahun politik ini senantiasa damai tanpa ada perdebatan diluar arena yang sesungguhnya. Kalau memang cukup ada gagasan bolehlah ambil formulir dan maju ikut bertarung di mimbarnya.

Selamat berjuang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *