Repeat Order Bukan Hanya Istilah di Marketing Saja

Dalam dunia tenaga kerja ternyata memiliki istilah tak ubahnya di dunia marketing. Repeat Order (RO) atau mengajukan kembali ternyata masih menjadi sesuatu yang lumrah.

repeat order
oneyesoneno.com

Cukup banyak alasan pembenar hingga seseorang rela balik ke tempat semula. Harusnya bila mereka kembali karena mendapat penawaran yang lebih baik bukan karena gagal di tempat baru dan mengharuskan repaet order kembali.

Namun ini ada sebagian case RO dimana ia tidak mampu bertahan di tempatnya. Padahal ingat betul dulu sebelum pindah ia mengompori agar mengikuti jejaknya.

Bagai menjilat ludah kembali. Sesuatu yang dulu telah di sounding bila tempat kerja yang baru adalah tanah harapan. Sesuatu yang menggaransi akan lebih baik.

Mungkin ia termakan rayuan, rumput tetangga lebih baik. Tapi sadarkah itu bila rumput yang senantiasa segar tersebut adalah sintetis. Belum tentu kebenarannya karena saya selaku orang Jawa senantiasa ingat akan istilah “sawang sinawang” . Yang artinya kurang lebih antara satu dengan yang lain akan saling melihat.

Sayangnya yang dilihat hanya sebatas kulitnya saja tanpa melihat isi di dalamnya. Cobalah sesekali bisa berada langsung ditengah-tengah mereka dan merasakan apa yang sebenarnya terjadi.

Entah apa yang terbersit hingga orang tersebut rela RO kembali. Mungkin ia telah menyiapkan diri dimana dulu sempat berujar dan mengumbar bahwa apa yang didapat mencapai 3 kali dari apa yang diterima saat ini.

Usut punya usut, benar ia diberikan penawaran yang jauh lebih besar. Tapi ia lupa ekspektasi dari pemodal otomatis pun bisa jadi 3 kali lebih besar dari yang ada sekarang.

Bila memiliki kompetensi yang mumpuni mungkin tidak masalah. Tapi apa jadinya bila belum siap dan yang ada kemudian ia harus melipatgandakan waktunya hingga tiga kali pula.

Bila dulu senantiasa pulang teng go atau tepat waktu tapi kini dari beberapa informasi setiap hari harus pulang diatas jam 11 malam. Dan paginya pun harus berangkat lebih awal karena kantornya ada di kawasan bisnis ibukota.

Banyak waktu tergadai mungkin itu realita yang dihadapi. Memiliki uang yang banyak tak akan terasa bila waktu hanya untuk bekerja dan pekerjaa. Tanpa ada akitifitas lain seperti kumpul dengan sahabat dan saudara.

Bahkan di hari liburpun masih belum bisa berpikir tenang karena mengingat pekerjaan yang tak kunjung selesai. Sekedar catatan buat saya dan rekan-rekan apakah dengan mudah kita akan pindah perahu.

Perlu digarisbawahi bila kita dikasih lebih maka dibelakangnya sudah pasti ada ekspektasi lebih pula. Bila kemudian tidak kuat dan angkat bendera putih haruskah repeat order kembali.

Aturan diatas tentu tak berlaku bagi para freshgraduete. Hendaknya mereka sebelum berpikir soal angka terlebih dahulu berpikir tentang pengembangan diri dan karir. Bila dua hal tersebut didapat maka angka akan mengikuti pula.

This Post Has 7 Comments

  1. Benar mas,
    Kadang alasan orang pindah pekerjaan itu kebanyakan karena ditawarkan gaji lebih baik,
    Sedangkan mungkin sedikit orang yg keluar karena alassn jarak, meskipun harus berangkat subuh pulang larut, tetap dilakoni. Apalagi untuk laki-laki, ada kewajiban menafkahi keluarganya jadi apapun dilakukan.

    Tapi menurut aku pribadi mumpung masih muda, gak masalah mencoba ditempat lain yang lebih baik. Karena saat usia diatas 35’an. Perusahaan juga agak sulit menerima karyawan dengan rentan usia itu.

    Kalau dari sudut pandang efektifitas kerja, dan soal hak karyawan. Jelas lembur sampai malam begitu juga tidak bisa dibenarkan. Tapi bagaimana kalau dilihat dari sudut pandang kebutuhan pribadinya, bisa jadi dia jg rela lembur demi mengejar bonus yang mungkin bisa digunakan untuk kebutuhannya.
    Kita gak pernah tau.

    Tapi sayangnya, jarang ada upah lembur untuk staff perusahaan. Jadi kalaupun pulang sampai malam ya dianggap kerja sukarela.

    Salam kenal mas,
    Aku suka tulisanmu

  2. wah saya termasuk yang menyerah kerja di ibukota mas, apalagi pas menjelang nikah, makin galaulah. kalo tetep kerja dengan ritme seperti itu, waktu saya untuk keluarga kapan? *curhat*

    untunglah menemukan dunia tulis menulis ini, bisa berkarya di rumah, jauh dari gank ibu-ibu gosip 😀

    great posting mas!

    1. saya juga pengen pulang ke jogja tapi apa daya g mampu bersaing di kerasny jogja

    1. monggo

  3. Mau doong belajar marketing. Newbie nih buat olshop 😀

    1. ini saya juga nubie kak

Tinggalkan Balasan

Close Menu