Sambangi Rumah Si Pitung, Seolah Masuk Mesin Waktu

Metropolitan identik dengan mahal tapi jangan salah ternyata di ibukota ini masih terdapat beberapa destinasi wisata murah meriah. Rumah Si Pitung salah satunya, objek wisata sejarah ini berada di kawasan Marunda Pulo, Jakarta Utara.

rumah si pitung
https://www.linamuryani.web.id

Dikenal dengan Museum Kebaharian, lokasinya persis di perbatasan Jakarta Utara dengan Bekasi membuat objek wisata ini gampang-gampang susah di temukan. Waktu itu saya berkunjung bersama rekan-rekan dari Komunitas Jakarta Lokal Guide.

Berangkat dari BSD Serpong sekitar pukul 07.30 wib dan tiba lokasi sekira pukul 11.00 wib. Cukup lama memang karena harus tiga kali ganti kereta commuter line dan 1 kali naik Trans Jakarta.

Biaya yang dibutuhkan untuk perjalanan ini cukup murah. Meski tiga kali ganti kereta kita cukup merogoh Rp 6.000,-. Kereta pertama dari Stasiun Serpong ke Tanah Abang, selanjutnya ke Kampung Bandan dan terakhit ke Stasiun Tanjung Priuk.

Sementara itu untuk tiket trans dari Terminal Tanjung Priuk ke Rumah Si Pitung hanya Rp 3.500,-. Namun menariknya saat pulang kita tidak dikenakan biaya dan kami sempat kebingungan karena tidak di pungut biaya.

Usut punya usut ternyata moda dari Merunda ke Terminal Tanjung Priuk ini di gratiskan pemerintah. Bisa jadi ini adalah komitmen pemerintah untuk warga Marunda yang mana mereka adalah warga terkena gusuran dari Jakarta.

Tiba di lokasi kami bertemu anggota Jakarta Local Guide yang telah lebih dulu sampai. Meski baru kali pertama bertemu komunitas ini sangat terbuka dan membumi.

Bagaimana tidak, saya yang tidak kenal dengan mereka langsung diterima layaknya anggota lama. Dari komunitas ini saya juga bisa belajar lebih banyak tentang sejarah Rumah Si Pitung dan serba-serbi komunitas yang bisa dibilang ada di seluruh penjuru dunia ini.

Saya sendiri mencoba menjadi Local Guide sejak beberapa bulan lalu yang mungkin tidak sengaja. Dari hobi otak atik fitur yang ada di smartphone dan menemukan satu hal yang menarik dan ditekuni.

Dari sini kemudian penasaran apakah ada komunitas dan benar saja ternyata di tiap kota ada. Berharap ada meet up dan ada info bahwa mereka akan kumpul di Rumah Si Pitung maka mendaftarlah.

Bila kamu belum bergabung dengan komunitas Local Guide ada baiknya untuk bergabung. Banyak hal bisa di dapat bila kamu bisa menjadi bagian dari mereka.

Selain ingin mengenal komunitas jalan-jalan ini saya juga penasaran dengan cerita Si Pitung yang melegenda. Bagaimana film dengan bintang Dicky Zulkarnaen ini selalu tayang saat libur tiba. Kisah heroik layaknya film Robin Hood yang bisa menginspirasi siapa saja untuk berjuang bagi mereka yang tertindas.

Kembali ke Rumah Si Pitung, ternyata menurut penuturan pemandu wisata setempat rumah ini bukanlah tempat tinggal pahlawan lokal Betawi tersebut. Hanya saja bisa jadi rumah bergaya Bugis ini adalah salah satu bukti sejarah otentik yang tersisa.

Apa yang ada dalam rumah bersejarah tersebut bisa di bilang sangat minimalis dalam artiaan tidak banyak benda asli. Meski demikian pemerintah mencoba mengembalikan aura rumah tersebut layaknya jaman Si Pitung.

Rumah berbahan ulin atau mahoni, mungkin itu yang benar-benar masih asli. Dimana sejak rumah panggung tersebut di bangun masih dipertahankan hingga sekarang. Kalau pun ada renovasi akan dikembalikan ke bentuk aslinya.

Jadi bila kamu penasaran bolehlah berkunjung dan jangan ragu untuk masuk. Tiket yang dikenakan untuk wisatawan juga sangat murah.

Bermodal Rp 5.000,- maka kita sudah bisa masuk mesin waktu. Jangan lupa untuk ambil setiap momen karena sangat sayang untuk dilewatkan. Disini kamu juga bisa berfoto ala Pitung bermodal Rp 15.000,-.

Beruntung sebelum kami berkeliling di sambut pemandu wisata dan mendapat informasi yang lebih dalam dari apa yang disaksikan di layar kaca. Bila Si Pitung dalam film di citrakan jagoan Betawi maka disini yang saya tangkap beliau berasal dari Serang, Banten.

Hanya saja karena berguru pada ulama Betawi maka ia kemudian di kenal sebagai pendekar Betawi. Selain itu ada versi lain yang mengatakan bila Si Pitung ini berasal dari Bugis atau Makasar.

Perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan kebenarannya karena pada masa itu memang belum ada alat atau perekam sejarah. Terlebih citra yang ada Si Pitung adalah perampok atau pemberontak.

Hal ini membuat identitas senantiasa dirahasiakan untuk keamanan. Mungkin akan lain cerita bila Si Pitung bukan dicitrakan sebagai penjahat (bagi Belanda) atau ia hidup di era milenial yang kemudian mudah ditemukan dalam jejak digital.

Berkunjung ke Marunda Pulo tak hanya ada Rumah Si Pitung. Di sini juga ada satu situs yang harus di kunjungi yang konon telah ada sejak tahun 1500-an. Penasaran bukan dan mungkin akan saya bahas dalam artikel selanjutnya.

This Post Has One Comment

  1. Sayang atu, kenapa saya tidak diajak dan bisa menjadi pengawalnya, biar sekalian nanti jalan-jalan wisata ke marunda. Saya sudah sering ke sana.

Tinggalkan Balasan

Tautan komentar adalah nofollow free.

Close Menu