Input your search keywords and press Enter.

Setiap Saat Adalah Potongan Cerita (SMP)

SMP menjadi satu episode yang begitu luar biasa. Tahun 1995 saya masuk SMP N 1 Godean dan kebetulan masuk kelas D dan selama tiga tahun tidak pernah pindah kelas. Padahal biasanya tiap kenaikan kelas akan dikocok ulang tapi dalam kesempatan itu ternyata tidak.

amazonaws.com

Dikelas tersebut saya bertemu sosok luar biasa yang mampu menginspirasi untuk selalu lebih baik dan tidak mau kalah dengan yang lain. Dia tak lain adalah ketua kelasku dan tidak akan pernah kulupakan orang tersebut walaupun saya tidak pernah menjadi bagian dalam kehidupannya.

Ia mengajarkanku akan semangat untuk terus belajar. Bayangkan pernah suatu ketika saya bertanya tentang kegiatannya seahari-hari dan ia menceritakan secara gamblang.

Setiap hari ia biasa bangun jam 4 lewat sedikit kemudian subuh. Setelah itu ia akan belajar untuk menguasai materi yang akan dibahas di kelas. Pagi hari jam 7 sampai pukul 2 kami masuk kelas.

Seusai pulang sekolah ia akan rehat sebentar untuk ikut les dari pukul 3.30 sampai menjelang magrib. Selesai les pulang lalu mandi dan mengaji al quran dari magrib sampai dengan isya. Setelah itu ia akan belajar kembali mengulang apa yang telah didapat dikelas tadi pagi. Baru jam 9 lewat beranjak untuk tidur dan mengulang ritus seperti itu tiap harinya.

Saya juga memiliki kekaguman saat ia berlari di lapangan bola. Jujur untuk ukuran perempuan kecepatan larinya cukup baik. Terlebih rona pipinya yang memerah mengeluarkan keringat disengat matahari.

Tak lebih dari 3 bulan saya mengenal perempuan tersebut kemudian ribut sampai sekarang tidak ada lagi komunikasi. Saya ingat betul pangkal masalah kala itu adalah adu gengsi mana yang lebih baik antara laki-laki dengan perempuan.

Karena ia perempuan tentulah ia akan turut membela mati-matian kalau perempuan tidak kalah dengan laki-laki. Dan bodohnya kenapa kala itu saya terlalu gengsi untuk mengakui kalau ia memang lebih baik. Satu penyesalan terdalam dalam hidup yang tidak akan terlupakan.

Seringkali waktu diawal kelas 1 kita berlomba menjadi yang terbaik. Saling menunjukan nilai ulangan kami yang biasanya tidak terpaut jauh dan selalu tersenyum itu yang ada.

Cinta monyet mungkin itu benar adanya (walaupun dia sama sekali tidak ada rasa lho ya) dimana saat itu saya selalu aja nerveos dan salah tingkah bila ada satu mahluk ini dan semua orang sekelas atau mungkin se SMP tahu kalau saya tergila-gila padanya.

Pernah suatu ketika dan mungkin berulangkali ketika pas-pasan dan selalu saja menyingkir, kalau perlu pergi menghilang dari dunia ini dan satu kejadian yang tak kan terlupakan saat pesantren Ramadan. Waktu itu malam-malam sekitar pukul 21.00 sedang di aula dan entah kenapa dia sendirian tiba-tiba naik.

Tak sempat berpikir panjang, akhirnya melakukan tindakan konyol dengan melompat pagar pembatas dan berada digenteng. Memastikan ia sudah turun atau saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Yang jelas saat itu hanya bingung dan panik

Ada juga memori yang cukup indah saat ujian akhir olahraga lari estafet kelas 3. Saat itu kebetulan bisa mengalahkan teman saya yang jauh lebih unggul dari sisi fisik dan apapun.

Ada juga teman terbaik yang silahturahminya sampai sekarang cukup baik. Teman bersama sejak belasan tahun silam. Bukan hanya mengenal rumah tempat tinggalnya tapi juga dengan seluruh orang tua dan saudaranya.

Dengan merekalah kenakalan semasa itu ada dan semua masih dalam batas kewajaran seperi melompat pagar sekolah, kabur dari pelajaran, main ke pasar dan sejenisnya.

Kelas yang tidak pernah dikocok ulang membuat kami menjadi eksklusif dimana kami dari kelas 1 sampai kelas 3 hanya dekat dengan orang-orang itu saja. Kalaupun bertukar tempat duduk paling hanya dengan yang disekitarnya, tak lebih.

Setelah tiga tahun penuh keindahan akhirnya kelulusan pun tiba. Pra kelulusan bingung dengan nilai hasil ebtanas. Pasca terima daftar nilai kebingungan yang lain muncul, mau melanjutkan kemana belum tahu juga. Saat itu saya berkeinginan masuk SMA dengan alasan ingin kuliah walaupun tidak tahu jurusan apa yang nanti diambil.

Apa daya keuangan orang tua tidak mencukupi dan tak apalah akhirrnya terdampar di STM Pembangunan Yogyakarta. Kala itu sama sekali tidak tahu jurusan apa yang hendak di ambil. Namun seolah Tuhan telah menggariskan, saya harus ambil jurusan Listrik Industri.

Dari situ juga saya semakin percaya dengan yang namanya jodoh, rejeki, hidup, mati itu sudah ada yang mengatur dan semua berjalan dengan baik. Terima kasih Tuhan, engkau telah mengatur segalanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *