Tampang HRD, Saya pun Tak Memilikinya

Tampang HRD, Saya pun Tak Memilikinya

Setelah beberapa waktu lalu sempat heboh dengan penyebutan tampang anu oleh salah satu tokoh bangsa. Dan kini saya pun merasakannya, bedanya mungkin telah berulang kali mereka mengatakan saya tidak memiliki tampang HRD.
tampang hrd
Mereka itu bukan hanya para rekan kerja dan atasan semata tapi yang baru kenal dengan saya pun mengatakan tampang HRD tidak saya miliki. Menurut mereka saya lebih pantas menjadi sales marketing karena konon lincah berbicara layaknya “tukang obat.”

Iya benar saja mungkin dalam benak mereka HRD itu orang yang parlente, rapi, klimis, wangi dan berbagai penyebutan lainnya. Hal ini tak terlepas peran sentral HRD dimana mereka yang kali pertama bertemu pihak lain.

Saya pun meyakini apa yang disampaikan mereka adalah sebuah kebenaran. Hanya saja bolehlah saya menjadi diri sendiri. Tak mau terjebak apa kata itu tuntutan pekerjaan. Tapi tetap dalam jam kerja untuk lebih memperhatikan etika.

Selepas jam kerja bolehlah menggila dengan yang lain. Tak ada batasan satu sama lain dan bercengkrama tanpa batas.

Mungkin saya bisa menjadi HRD ini terjebak situasi dan kondisi. Dimana kala itu hanya ingin bekerja dengan bersenang-senang. Tak mau lagi bekerja hanya sekedar ritus 08.30 wib hingga 17.30 wib.

Pekerjaan yang menuntut kreatifitas dan ide dimana setiap hari akan ketemu kondisi berbeda. Mungkin itu satu hal yang paling disuka hingga bertahan sampai dengan titik ini.

Tak pernah berpikir kerja itu untuk karir ataupun uang. Yang ada hanya aktualisasi diri dan kalau toh ada sejumlah nominal dan karir menurut saya itu efek atas apa yang dikerjakan.

Kerja itu bukan karir mungkin itu kesalahan paling fatal yang membuat saya stagnan atau tidak bisa naik ke posisi yang lebih tinggi. Sejak lulus kuliah hingga saat ini tidak berani berpikir tentang karir.

Dan saya pun menyadari akan hal itu mengingat dalam benak saya tak ada keinginan terpenjara dalam sebuah sistem hingga tua. Ada banyak hal perlu di lihat lebih dekat dan menjadi freeman mungkin sebuah konsekuensi yang harus di ambil.

Minimal dengan pilihan ini ada banyak hal bisa diraih semisal bisa traveling keliling Indonesia, menjajaki berbagai profesi yang berbeda selain hanya sebagai HRD. Profesi lain yang saya ambil saat ini tentu saja sebagai seoraang blogger.

Saat ini selain blog ini masih ada Kanal Jogja dan Wisata Lokal Indonesia. Tak hanya menulis tapi juga optimasi sosial media mulai dari Facebook, Twitter, Instagram hingga YouTube. Berharap dari semua kesenangan itu akan berbuah manis kelak.

Minimal ada jejak digital yang bisa di wariskan untuk anak cucu. Syukur-syukur bisa memberi wawasan untuk yang lain. Memang sih masih amatiran tapi percaya pada proses, tak ada hasil yang akan membohongi proses.

Jujur kalau bekerja ingin menjadi uang tentu saja dunia marketing adalah lahannya. Selain mereka mendapat gaji bulanan mereka juga akan mendapat insentif.

Lain hal dengan istri saya, Lina Muryani yang memiliki tampang marketing. Berbagai produk bisa ia jual dari yang berkomisi receh semisal daster hingga komisi 1 digit semisal tanah.

Lain hal dengan menjadi HRD, apa yang dikerjakan bagi saya lebih sebagai sebuah kebahagian. Entah ada apa kemudian yang jelas saya bahagia dengan apa yang dilakukan.

This Post Has One Comment

  1. Bener sih pakde Joko gak ada tampang HRD, biasanya kan HRD ganteng ini pakde Joko lebih kaya pak Ustadz gitu tampangnya 😀

Tinggalkan Balasan

Tautan komentar adalah nofollow free.

Close Menu