Psychology

Cerita Sepasang Sandal

Dulu, di tahun 90-an sandal ini begitu populer di sekitar saya dan mungkin kamu juga telah mengenakannya. Hampir semua orang memilikinya baik itu tetangga, teman SD atau pun teman SMP.

Hanya saja saya saat itu tidak memilikinya. Sadar betul kala itu sandal ini begitu berkelas, hanya mereka yang berduit yang bisa memiliki. Atau setidaknya harus menahan diri untuk tidak jajan berbulan-bulan.

Baca juga: Masa Kecil Kurang Bahagia

Begitu mudah kutemukan, terlebih saat hari raya lebaran. Mereka semua mengenakan dan saya masih setia mengenakan sandal jepit. Kalau tidak swallow ya melly itu sudah cukup begitu nyaman.

Hingga saat ini, belasan tahun berjalan dan saya masih menjadikan sandal jepit sebagai favorit. Meski di beberapa kesempatan dicibir orang. Konon sandal jepit tidak pantas masuk kondangan atau mall tapi saya masih begitu acuh.

Awal tahun ini, ingatan atau tepatnya obsesi untuk memiliki sandal terkeren ‘menurut saya’ muncul kembali. Sebelum pandemi masuk Indonesia saya bersama istri dan anak jalan-jalan ke lulu hypermart dan melihat sekilas kemudian mencoba.

Sangat nyaman batin saya dan wajar saja bila kemudian banyak orang menyukainya. Melihat harga yang ada dilebel urung saya membeli. Ku pikir ah ini terlalu mahal.

Waktu terus berjalan dan masih ada rasa gelisah. Ingin saya memilikinya meski hanya sekali dan kemudian iseng-iseng buka marketplace.

Scroll atas bawah kiri kanan cek harga satu dengan yang lainnya. Mencoba mencari yang paling murah dan akhirnya, aha ada juga yang murah menurut saya dan kemudian melakukan pemesanan.

Harganya hampir setengah yang saya lihat di hypermart kala itu. Ku pikir ah itu sama aja yang penting mereknya sama.

Saat barang datang yang terjadi kemudian adalah penyesalan. Kenapa saya terkecoh harga murah dan ini beda dengan yang saya rasakan kala itu.

Kala itu ada rasa nyaman dan adem di kaki. Tapi kali ini yang saya rasakan keras dan panas. Berhubung sudah dibeli ya sudahlah tetap akan saya kenakan.

Hanya saja tetap saja, rasa nyaman sandal merek internasional ini ternyata masih kalah dengan sandal jepit harga ribuan atau belasan ribu. Sandal favorit pribadi dari dulu hingga kini.

Belajar dari pengalaman ini setidaknya kini saya tahu dan yakin bahwa harga tak bisa berbohong. Merek boleh sama tapi ketika harga beda tentu ada sesuatu yang ditawarkan.

Sama halnya dalam hidup ini, tanpa sadar kita akan keluar biaya lebih untuk atas nama kenyamanan. Paling gampang dalam realita itu mungkin kita seringkali menikmati kopi.

Bisa jadi tak ada yang mahal untuk segelas kopi bila cukup di angkringan. Tapi bila mencoba menikmati di starbucks harganya sudah pasti berkali-kali lipat.

Jangan terkecoh dengan harga. Yang penting bila kamu yakin maka belilah karena pengalaman itu juga butuh ongkos.. Mungkin juga yang punya cerita sepasang sandal bukan hanya saya saja tapi kamu juga. Eaaa

Show More

Related Articles

13 Comments

  1. Nah, itulah kenapa kalau perempuan seperti saya tuh butuh waktu lama saat belanja. Kita memilih dan menyeleksi. Pakai proses screening dan mendalam dan detail supaya bisa dapat harga paling murah dengan kualitas setara dengan produk mahal. Sebenarnya kalau tahu trik nya bisa kok dapet barang murah berkualitas.

  2. Makanya, Kak, kalau sudah suka langsung dipinang biar nggak kebawa mimpi dan berubah jadi penyesalan. Hahaha. Btw sandal merek itu saya juga punya sewaktu kecil, yang model sandal gunung. Harganya dari dulu memang mayan yaaaa.

  3. Ono reggo ono rupo ya…kadang untuk beberapa item kalo aku sih gak mempermasalahkan harga..tapi kalo cocoknya dan nyaman dipake itu berharga murah..ya sikatt hahah

    1. Kalau untuk sandal/sepatu, ada harga ada rupa mas. Saya mending bayar lebih buat kenyamanan pas beraktivitas , untuk makanan/minuman itu lebih ke selera dan budget, yg penting kenyang hehe

  4. Sesuaikan dengan kebutuhan dan bujet kita ya Pak. Jangan terlena entah karena lihat promonya aja, bentuknya aja, padahal yang masih belum kepake misalnya masih ada

  5. Kalau yang punya uang cukup sih ok-ok saja membayar lebih untuk sebuah kenyamanan. Tapi untuk yang pas-pasan begini sudah alhamdulillah kebutuhan bisa terpenuhi. Karenanya kalo butuh barang yang nyaman dipake, dibela-belain nabung dulu. Hehehe…

  6. Ada harga ada rupa ya mas. Kalau buat alas kaki sih aku mementingkan kenyaman dipakenya. Ga terlalu masalah harganya asalkan nyaman dipakai tapi kalau bisa sih ya tetep cari yang ramah sama budget kantong jugaa hhi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Open chat