Ilmu Ikhlas Di Mana Harus Dicari

Last Updated on 13 Agustus 2020 by Joko Yugiyanto

Beberapa bulan harus berada di dalam rumah membuat jiwa netprenuer menggelora. Bagaimana berupaya bertahan hidup bermodalkan kuota internet sederhananya. Dan kini tengah berjuang mendalami ilmu ikhlas.

ilmu ikhlas
jokoyugiyanto.com

Berbagai pekerjaan prakmatis dan konseptual harus benar-benar dilakukan. Mengerjakan sesuatu yang sifatnya jangka pendek untuk pendapatan minggu atau bulan ini. Dan mengerjakan sesuatu yang sifatnya jangka panjang untuk pendapatan tahun depan dan seterusnya.

Merubah mental dari sebelumnya hanya berharap mendapat incame bulanan menjadi pendapatan harian. Terus dan terus mendapatkannya hingga rizki itu tak pernah putus.

Memaksa hati dan pikiran untuk terus bekerja atau lebih tepatnya berkreatifitas. Menjadikan apa yang di sukai menjadi ladang penghasilan.

Bekerja bukan lagi membarter waktu, tenaga dan pikiran untuk perusahaan. Bekerja itu kini menjadi hobi atau mungkin gaya hidup yang akan terus berlangsung.

Selama 3 bulan ini saya lebih suka mengatakan sebagai netprenur atau pelaku wirausaha yang bisa jadi ada untung dan buntung. Belajar ikhlas untuk menjadi pelaku usaha itu yang sedang saya coba pelajari.

Bila lulus ini maka saya yakin kelak akan mudah untuk melangkah. Saat ini masih ada rasa takut gagal, takut rugi, atau takut buntung. Tapi semua proses ini harus terjadi.

Saya yakin mereka yang sukses pernah gagal. Mungkin mereka pernah merasakan di tipu rekan kerja, atau pernah merasakan di titik nadir.

Pengalaman-pengalaman yang dibutuhkan bagi para pelaku usaha. Pengalaman untuk gagal dan kemudian bangkit lagi. Bukankah saya menyukai kutipan, “tak ada pelaut handal di ciptakan dari laut yang tenang”. Walau tak tahu siapa yang kali pertama menggunakan tapi itu menjadi cambuk untuk terus berproses.

Tapi kenapa kini saya begitu ketakutan ketika harus dihadapkan pada tantangan-tantangan itu. Kalau saya tidak pernah gagal lantas apa yang bisa saya pelajari untuk kemudian dikembangkan, itu kata hati kecil saya.

Tapi ego ini senantiasa mengatakan saya tidak boleh buntung, tidak boleh rugi. Apapun usahanya harus menghasilkan, produktif, tumbuh dan berkembang.

Kembali ke judul di atas, sengaja saya pilih untuk mengajarkan diri ini ikhlas atas apa yang terjadi. Untung sedikit rugi banyak tak apa. Itu adalah ongkos belajar yang harus dikeluarkan.

Mungkin saya lupa berapa juta uang harus dikeluarkan selama menempuh pendidikan. Itu bukankah ongkos belajar yang harus juga dikeluarkan. Tapi kenapa saya tidak mengeluh, apakah karena diganti selembar ijazah. Mungkin saja, ah sudahlah.

Kembali tentang ilmu ikhlas ini, berulang kali saya melihat tayangan di televisi bahwa ilmu ini tidak bisa diajarkan. Harus dilakukan dan dipelajari secara personal.

Maka wajar saja bila kemudian ada yang bisa menyelesaikan tahapan ilmu ikhlas ini sejak usia bocah, remaja, dewasa atau mungkin tua. Paling apes tentu saja bila hingga ajal menjemput ilmu ikhlas ini tidak terselesaikan.

Tak ada surat tanda tamat belajar atau pun mungkin surat keterangan pernah mengikuti kelas ini. Tapi saya yakin banyak diantara kita yang sukses melewati tahapan ini. Paling mudah tentu saja mereka yang hobi berbagi dengan sesama.

Saya mungkin juga lupa, bila sedekah ini adalah salah satu cara untuk melewati tahapan ini. Sedekah atau dana yang biasa di keluarkan 2.5 persen itu adalah bagian dari cara mencari ilmu ikhlas.

Padahal di luar sana ada yang memberi lebih dari 100 persen dari apa yang mereka dapatkan. Saya pun memiliki salah seorang kawan yang begitu luar biasa. Bagaimana di usia muda ia telah memiliki madrasah dari tingkat kanak-kanak hingga setara aliyah.

Ketika ditanya bagaimana menghidupi puluhan atau mungkin ratusan santri itu bagaimana caranya. Ia pun hanya menjawab semua saya serahkan Gusti Allah karena saya pun tidak memiliki apa-apa.

Jujur saya salut sama ini kawan bagaimana ia bisa melakukan. Bahkan dalam satu waktu ketika istri hendak melahirkan ia tidak memiliki uang sama sekali.

Di hari itu pihak rumah sakit meminta menyediakan dana Rp 18 juta untuk operasi persalinan. Beberapa saat sebelum tindakan operasi ia pun hanya berdoa dan tiba-tiba dana belasan juta itu tersedia. Rezeki yang datang dari kerabat itu pun langsung disetor ke ruang administrasi.

Ingat betul ketika kita masih bekerja bersama dalam satu perusahaan. Mungkin ia tak pernah merasakan kekurangan secara finansial. Selain gaji yang cukup tentu saja ada uang insentif atas prestasi kerja.

Dan kini meski dompet atau kantong kosong hidup dalam keberkahan. Apa yang ia kerjakan semata-mata untuk kebaikan orang lain karena sekali lagi rezeki itu pasti ada.

Sekarang giliran saya untuk menantang diri ini bagaimana bisa bersikap seperti kawan ini. Pasti saya tidak bisa memberi seperti apa yang ia berikan untuk orang lain. Tapi minimal saya haruslah bisa memberi manfaat untuk orang yang ada di sekitar.

Menjadi netprenuer tak ubahnya seperti pelaku usaha yang lain. Harus siap jatuh bangun bila tidak mungkin bagi saya cukup menjadi karyawan. Dan bila gagal selesaikan ilmu ikhlas maka saya akan termasuk orang yang akan menyesal seumur hidup.

Sebagai penutup, tulisan ini adalah bagian katarsis yang saya lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Saat Saya Buntu Menulis Apa yang Saya Lakukan. Jawabannya tetap menulis.

Satu pemikiran pada “Ilmu Ikhlas Di Mana Harus Dicari”

Tinggalkan komentar