Perlunya Sinergi Keluarga dan Kearifan Lokal untuk Pendidikan Anak Usia Dini yang Lebih Baik

Saya percaya bahwa anak terlahir bagaikan kertas putih. Ia lahir tanpa noda dan kita sebagai anggota keluarga yang pertama kali akan mewarnainya. Tumbuh kembangnya kian optimal bila mana kita sebagai orang tua tahu metode pendidikan anak usia dini yang paling tepat.

verrel abhiraj jurnalistika
jokoyugiyanto.com

Metode pendidikan anak usia dini (PAUD) ini tentu sangat banyak. Tak jarang kita temukan sekolah pertama untuk buah hati tawarkan berbagai kelebihan dan fasilitas pendukung tapi jauh dari nilai-nilai Indonesia.

Namun perlu dicatat, kita sebagai orang tua adalah sentral dalam proses tumbuh kembang anak. Mereka yang dalam masa usia keemasan dari bayi hingga usia 5 tahun harus mendapat rangsangan dan respon yang memadai.

Jangan sampai terjadi kesalahan metode yang besar kemungkinan akan berdampak dimasa yang akan datang. Semisal seringkali kita temukan orang tua menakuti anaknya saat bermain diluar rumah dengan alasan resiko keamanan dan mengatakan sesuatu yang berlebihan.

Bila ini diamini si anak dan beranggapan bermain diluar rumah itu bahaya maka bisa ditebak kehidupannya hanya sebatas dalam kamar atau rumah semata. Sangat sayang bukan bila ini terjadi pada buah hati kita.

Lain halnya bila kita mencoba mentautkan program pendidikan anak usia dini dengan menanamkan nilai kearifan lokal. Semisal sejak kecil anak diajarkan untuk berbaur dengan orang lain. Tak cukup berhenti disini tapi juga diajarkan tentang tata cara menghormati dan menghargai orang lain, khususnya mereka yang lebih tua.

Nilai-nilai kearifan lokal yang berpusat pada ajaran orang tua kini seringkali terabaikan. Kemudahan yang ditawarkan teknologi seolah menjadi jawaban atas semua pertanyaan.

Kearifan lokal itu sendiri biasanya tumbuh dan berkembang pada masyarakat yang heterogen yang cenderung tinggal dipedesaan. Mereka terbiasa menghargai yang namanya perbedaaan. Tak ada alasan untuk tampil lebih unggul atau lebih baik.

Kini hal itu tentu menjadi tantangan bagi masyarakat perkotaan. Dimana mereka cenderung individualis. Bahkan tak jarang sering ditemukan para orang tua merogoh kocek dalam-dalam agar anaknya mendapat pendidikan yang baik.

Padahal sejatinya tumbuh kembang anak usia balita tak akan maksimal tanpa melibatkan orang tua secara langsung. Dimana anak masih butuh perhatian dan kasih sayang yang lebih besar daripada mereka yang telah tumbuh remaja atau beranjak dewasa.

Ruang kelas bukan hanya memberikan pendidikan yang tepat bagi buat hati juga membuka komunikasi yang seluas-luasnya. Dengan demikian tiap saat para orang tua dapat mengakses atau mengetahui sejauh mana putra-putrinya berkembang.

Ruang pendidikan bagi anak-anak harus memiliki visi bagaimana menjadi sekolah yang mampu mendorong rasa percaya dari dan kemandirian bagi peserta didik. Suasana belajar di desain senyaman mungkin bagi anak-anak sehingga mereka merasa tidak sedang sekolah tapi lebih bisa dikatakan belajar bersama teman-teman sebaya.

Tak hanya fokus pada perkembangan motorik kasar dan halus pada anak. Tapi mereka juga mengoptimalkan tumbuh kembang fisik, intelektual, sosial hingga emosional anak.

Satu paket pendidikan yang pas kiranya. Hal ini tentu membuat para orang tua merasa aman saat menitipkan si buah hati.

 

Tinggalkan Balasan

Tautan komentar adalah nofollow free.

Close Menu