Coba Cek, Kamu Melek Teknologi Belum?

Last Updated on 25 Oktober 2020 by Joko Yugiyanto

Tahun 2020 tentu menjadi tahun yang luar biasa. Pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir memaksa siapa saja untuk lebih banyak bekerja dari rumah dan belajar dari rumah. Maka mau tidak mau kita juga dipaksa untuk lebih melek teknologi.

melek teknologi
jokoyugiyanto.com

Tanpa itu dan ngotot masih bertahan dengan cara-cara konvensional maka bisa dipastikan kita akan sulit berkembang. Mereka yang tidak bisa adaptif untuk bisa bekerja dari rumah atau belajar dari rumah kelak hanya akan menjadi penonton dari perkembangan teknologi.

Hingga saat ini antivirus yang benar-benar efektif belum ada. Yang baru nampak sebatas ujicoba yang mana bisa sukses pun sebaliknya bisa gagal juga.

Dengan melek informasi digital bagi kita juga lebih mudah menyaring informasi. Mana fakta dan mana bukan jadi tidak mudah menjadi korban orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Berusaha mengambil hikmah dengan adanya Covid 19. Kita-kita yang pada mulanya enggan untuk belajar dan mengoptimalkan teknologi digital maka kini mau tidak mau harus menggunakannya.

Melek Teknologi Bukan Hanya Milik Gen Z

Kalau saja tidak ada pandemi yang telah berjalan hampir satu tahun bisa jadi mereka yang paling melek teknologi adalah para generasi Z. Namun kini, kamu termasuk dalam generasi apapun harus ikut melek bila tidak ingin tersisih.

Pun para guru sekolah dasar yang kelahiran antara 1965 hingga 1980 atau yang biasa dikenal dengan generasi X sekalipun. Mereka yang pada awalnya kurang paham pun pada akhirnya dipaksa untuk bersinggungan dengan teknologi kekinian.

Lain cerita dengan generasi milenial yang mana mereka berada direntang 1981 hingga 1994. Mereka berada di area transisi di mana ada lompatan teknologi yang sangat dahsyat.

Khusus Gen Z yang lahir antara 1995 hingga 2010 yang mana mereka sangat erat dengan teknologi. Bahkan kini tak jarang merek yang masih sekolah dasar pun sudah mampu menciptakan program atau aplikasi berbasis digital.

Jujur, Kamu Tim Mana?

Pertanyaan selanjutnya adalah kita akan menempatkan diri pada posisi yang mana. Enggan untuk belajar dan berusaha melek teknologi atau menolak kehadirannya.

Mungkin saja ada beberapa profesi yang tidak erat kaitan dengan teknologi informasi. Tapi faktanya hampir semua pekerjaan akan dimanjakan dengan kehadirannya.

Beruntung bagi kamu yang ingin menjadi tim atau bagian dari mereka yang melek teknologi. Artinya kamu pun bisa menikmati ‘kue’ yang begitu legit.

Bayangkan saja, mereka yang tahu cara mengoptimalkan maka mereka tidak akan pernah pusing dengan jam kerja maupun lokasi kerja. Mau jam berapapun, mau di mana pun kamu tetap bisa produktif atau menyelesaikan pekerjaan.

Lain cerita bagi mereka yang masih berpikir konvensional. Bekerja itu harus di kantor dan office hour. Produktifitas mereka hanya pada jam-jam tertentu saja.

Saya Bukan Gen Z, Tapi..

Jujur saya bukan Gen Z karena termasuk dalam Milenial. Tapi sekali lagi dengan adanya pandemi saya bisa mengambil hikmah di mana saat ini pun saya menikmati kue berkat teknologi.

Untuk bekerja saya tidak butuh ruang khusus atau waktu khusus. Kapanpun di mana pun saya ingin bekerja tinggal nyalakan laptop. Selama ada kuota internet maka pekerjaan saya pun kelar.

Totalitas Menjadi Blogger

Sejak pandemi masuk tanah air, efektif 1 April 2020 saya harus unpaid leave hingga kondisi normal. Selama hampir 7 bulan ini saya hanya bekerja di rumah dan benar-benar menikmati menjadi seorang blogger.

Saya bisa bekerja jam berapapun, saya bisa istirahat lebih leluasa dan pastinya waktu lebih banyak bersama keluarga. Tak ada lagi jam kantor, yang ada adalah jam produktif. Bila memang saya harus 16 jam di depan laptop maka hal itu akan saya lakukan.

Menjadi seorang blogger bukan hanya perkara berapa banyak artikel bisa kita buat tapi disitu juga ada ego. Bagaimana ide dan pemikiran bisa dituangkan dan ditransformasikan kepada yang lain.

Semoga saja bermanfaat dan memberi nilai lebih. Kalau pun tidak bisa mewarnai orang lain tentang berbagai ide dan pemikiran.

Paling penting bagi saya, menulis adalah media katarsis. Di mana banyak hak bisa saya ceritakan dengan tepat, belajar merangkain kata untuk menyampaikan sebuah gagasan agar tepat sasaran. Mungkin saja ada satu dua orang di luar sana yang menjadi pembaca setia dan teman berbagi.

Lebih dari itu blog bagi saya adalah industri yang paling murah dan paling realistis untuk dioptimalkan, Bagaimana tiap tulisan yang saya buat, khususnya sesuai dengan pesanan klien memiliki nilai jual tinggi.

Mungkin sulit dipercaya tapi saya bisa menemukan beberapa kawan yang mana satu tulisan bisa dihargai hingga ratusan ribu. Kalau mereka bisa kenapa saya tidak.

Menjadi blogger itu gampang-gampang susah. Tapi selama ada kata tekun dan ulet maka bisa dipastikan akan bisa bertahan.

Berapa banyak diantara kawan yang memulai blogger dalam hitungan bulan dan kemudian menyatakan pensiun. Namun ada juga beberapa kawan yang masih aktif menulis hingga kini dan tembus belasan tahun.

Alhasil tulisan mereka pun mencapai ribuan artikel. Agar lebih mudah mendokumentasikan tulisan maka sudah pasti platform blog yang mudah dan murah itu menggunakan wordpress.

Cukup beli hosting dan domain dan profesi blogger telah disandang. Saat ini selain blog personal saya mengelola belasan blog. Tak banyak memang tapi dari beberapa blog yang berbeda niche tersebut saya bisa belajar banyak.

Tips Menjadi Blogger

Buat kamu yang ingin merintis menjadi blogger sebagai jalan ninja maka sangat disarankan untuk membeli hosting dan domain. Jangan sekali-kali menggunakan gratisan bila ingin semangat terjaga.

Maklum saja mereka yang menggunakan gratisan umumnya bila menyerah akan langsung dilepas. Lain bila di depan kamu telah investasi pastinya akan berpikir lebih jauh untuk menyerah.

Tak ada jalan pulang sebelum berhasil. Minimal adalah satu tahun sama seperti masa aktif hosting dan domain.

Untuk blog pertama yang dibangun alangkah baiknya pilih nama sendiri sebagai domain. Tujuannya tentu saja lebih mudah sebagai sarana personal branding. Selain itu blog adalah cerminan kita jadi untuk konten suka-suka kita.

Sama halnya ketika kamu cermati blog ini maka akan lebih banyak tulisan tentang psikologi dan seluk beluknya. Hal ini adalah citra diri saya sebagai alumni fakultas psikologi dan memang pekerjaan saya di tim rekrutmen atau lebih dikenal dengan Human Capital.

Saat ini ada beberapa alternatif bagi kamu untuk mendapatkan hosting dan domain. Satu hal yang cukup penting adalah cek domain untuk pastikan nama kamu belum digunakan sehingga bisa digunakan.

Hosting murah pun ada banyak, yang mana tidak perlu menguras kantong tapi database tersimpan rapi. Ingat semua tulisan yang dibuat adalah sebuah karya nyata dan eloknya harus tetap kita jaga hingga masa yang akan datang.

Kalau saya sudah mulai ngeblog dengan domain dan hosting sejak 2014 maka kamu yang belum ayo buruan. Jangan sampai pandemi membuat kita semakin terpuruk karena minim aktifitas.

Tinggalkan komentar