Cara Mudah Membentuk Perasaan Anak

Last Updated on 25 Agustus 2020 by Joko Yugiyanto

Membentuk perasaan anak itu harus diterapkan sejak dini. Bila tidak bisa jadi nantinya akan sulit dibentuk, yang ada kemudian adalah rasa untuk selalu nomor satu. Tidak bisa menerima satu kondisi yang kurang baik semisal kalah dalam kompetisi atau kegagalan.

membentuk perasaan anak
jokoyugiyanto.com

Sangat bahaya bukan, bila apa saja yang menjadi keinginan anak kemudian akan dituruti. Kelak bila dewasa ada satu keinginan tidak terlaksana akan langsung down. Oleh karena itu menjadi penting untuk membentuk perasaan anak sebaik mungkin.

Jangan pernah takut anak gagal atau kalah dalam berkompetisi. Yakinkan itu adalah hal yang biasa. Satu hal yang kemudian bisa dilakukan adalah bangkit dan mencoba kembali.

Baca juga: Pentingnya Keteladanan yang Baik Bagi Anak-Anak

Membentuk Perasaan Anak itu (Tidak) Mudah

Anak bisa dibentuk dengan baik bila disertai dengan contoh. Bukan hanya sekadar perintah harus seperti ini atau harus seperti itu. Namun alangkah baiknya bila disertai contoh yang konkrit.

Para orang tua hendaknya memberikan contoh baik secara terus menerus. Baik dalam bentuk perilaku, tutur kata maupun sikap sehingga anak dengan sendirinya akan mengikuti dan memahami apa yang disampaikan orang tuanya.

Baca juga: 10 Peran Penting Sosok Ayah dalam Mendidik Anak

Beberapa Cara Membentuk Perasaan Anak yang Bisa Dilakukan:

1. Biarkan Anak Bermain dengan Caranya

Jangan pernah takut bila anak bermain meski bisa saja membuat para orang tua deg-degan. Jatuh atau menjadi kotor itu hal biasa jadi tak ada yang perlu dirisaukan.

Ingat dengan pernah jatuh maka ia akan belajar lebih hati-hati. Tak hanya itu saja tapi ia juga akan belajar untuk bangkit lagi. Satu bekal yang bagus bukan untuk masa depannya nanti.

2. Bersikap Lembut

Sikap lembut itu harus ada tiap hari, tiap saat. Keras boleh tapi beralasan bukan semata-mata dengan alasan mendidik kemudian keras terus.

Ingat anak butuh kasih sayang dan kelembutan karena itu menjadi bekal untuk siap menghadapi dunia luar. Sering kita temukan kasus para orang tua yang keras berdampak pada anak-anak mereka, salah satunya yang paling nampak adalah hilangnya rasa percaya diri.

3. Hindari Labeling

Terkadang para orang tua memberikan label yang kurang baik semisal dengan nama panggilan “gendut”. Bisa jadi bagi orang tua itu adalah panggilan sayang tapi lain cerita bila kemudian teman-teman sebaya atau orang lain ikut menggunakan nama tersebut.

Bisa jadi nanti di kelas atau di tempat yang baru nama yang akan digunakan adalah label tersebut. Sangat sayang bukan bila ingat dulu waktu kecil para orang tua membuat nama anak sebaik mungkin tapi urung digunakan.

4. Membandingkan Dengan Orang Lain

Setiap anak itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jangan coba sekali-kali membandingkan karena ini justru akan menyakiti perasaan anak.

Biarkan mereka tumbuh dengan caranya dan para orang tua cukup mensuport apa yang ingin dilakukan anak selama itu baik dan positif. Meski kembar identik pun sering kali masih bisa kita temukan satu perbedaan di dalamnya.

5. Menjadi Pendengar Baik

Anak meski belum jelas ketika berbicara pun ingin didengarkan. Mendengarkan dengan hati tentunya sehingga anak merasa yakin para orang tuanya memperhatikan apa yang ia utarakan.

Luangkan waktu lebih banyak untuk anak, khususnya di masa keemasan guna mencapai tumbuh kembang optimal. Gagal pada masa ini tentu akan berakibat fatal disaat dewasa nantinya.

Dari kecil sampai sekarang, orang tualah sebagai pendengar yang baik untuk mendengarkan cerita seorang anak selama kehidupannya. Anak-anak membutuhkan perhatian terhadap orang lebih dewasa meskipun hal-hal yang sepele.

6. Berani Mengakui Kesalahan dan Siap Bertanggung Jawab

Membentuk perasaan anak yang paling sulit bisa jadi adalah poin ini. Cukup susah pastinya tapi bukan berarti tidak bisa. Bahkan mereka yang sudah dewasa pun belum tentu mampu dan berani mengakui satu kesalahan kemudian bertanggung jawab.

Ajarkan ini dari hal kecil dan sederhana dengan memberi contoh seperti kalimat permisi, terima kasih dan minta tolong. Terlihat remeh memang tapi bila ini dilakukan terus menerus maka akan berdampak sangat positif untuk tumbuh kembang anak.

Selain 6 hal diatas tentu masih banyak cara lain yang bisa digunakan untuk membentuk perasaan anak. Paling penting adalah jangan sekali-kali mencoba mematahkan semangat anak karena selaku orang tua hendaknya kita bisa mengarahkan dengan cara yang baik.

Tinggalkan komentar