Menulis adalah Jalan Ninjaku

Last Updated on 30 September 2020 by Joko Yugiyanto

Masih ada beberapa kawan yang bertanya kok saya sampai saat ini masih fokus menulis? Satu hal yang bisa jadi satu kegiatan paling membosankan di dunia. Tapi bagi saya tidak, karena menulis adalah jalan ninjaku.

menulis adalah jalan ninjaku
jokoyugiyanto.com

Tahun ini bisa jadi adalah tahun ke 11 dimana saya bisa bertahan hidup dengan modal menulis. Meski sejatinya saya bergabung dengan lembaga pers mahasiswa sejak 2004 tapi bila dikatakan benar menjadi seorang penulis adalah 2009.

Setahun pasca saya lulus kuliah dari jurusan psikologi dan nyemplung dalam dunia jurnalisme yang sesungguhnya. Satu dunia yang kala itu begitu menggairahkan karena nilai-nilai idealisme tertanam kuat.

Kerja dengan hati dan pikiran dimana apa yang kita tulis akan membawa pengaruh. Maklum saja kala itu bekerja untuk salah satu media mainstream terbesar di tanah air.

Ketika ada yang menduga saya menulis dengan belajar otodidak tentu tak benar juga. Ada proses panjang yang harus dilalui dimana sejak tahun 2004 saya telah belajar dan mengikuti training jurnalistik.

Flashback Selama Kuliah

Beruntung selama kuliah 4 tahun di kampus saya tidak tergabung dalam komunitas 3K (Kampus, Kos, Kantin). Selama itu saya bergabung dengan kawan-kawan yang aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dari sekian banyak UKM ada 2 yang paling tuntas yakni Badan Pers dan Penerbitan (BPP) Cakrawala dan Teater Senthir.

Saya katakan tuntas tentu saja karena saya berproses dari awal, menjadi anggota, menjadi pengurus dan lengser. Khusus di pers mahasiswa tentu menjadi pengalaman paling istimewa karena pernah menjadi orang nomor satu di organisasi tersebut.

Posisi yang memberi kesempatan untuk mengenal dunia lebih luas. Kesempatan untuk bergaul antar kampus se Jogja dengan dalih mewakili persma kampus dan lain-lain.

Ingat betul kala itu saya bukanlah orang yang fokus di redaksi karena jarang menulis kecuali ada kegiatan liputan. Lain dengan kawan yang memang orang redaksi dimana setiap hari akan diasah kemampuannya untuk terus menulis.

Kerja Pertama Usai Kuliah

Usai lulus kuliah saya pun melancong ke ibukota untuk mengadu nasib. Banyak perusahaan coba saya lamar dan uniknya, entah kenapa perusahaan media yang paling banyak disasar.

Baca juga: Yakin Mau kerja di Pabrik, Ini Ceritaku sebagai Karyawan Pabrik

Bukan untuk menjadi jurnalis tapi kala itu paling diinginkan adalah tim kreatif. Satu posisi dimana kreatifitas anggota menjadi nilai jual utama, bukan jam kerja ataupun kostum seperti apa.

Beberapa kali tes gagal dan akhirnya berjodoh dengan kelompok Kompas Gramedia yang ada di Palmerah, Jakarta Barat. Mengikuti seleksi dan menyisihkan puluhan kandidat tentu menjadi kebanggaan tersendiri.

Terlebih ada tes menulis yang berlangsung selama berhari-hari baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Satu yang tak pernah diduga tentu saja kala tes interview, dimana mereka mengajukan pertanyaan menggunakan bahasa Inggris dan saya menjawab dengan bahasa Indonesia.

Dan akhirnya dari puluhan nama itu menyisakan 3 nama dan salah satunya adalah saya. Kami pun diberi pengarahan akan mengikuti sejumlah pelatihan jurnalistik dan bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia.

Waktu pun tiba dan kami diterbangkan ke Bandarlampung karena tahun itu mereka ada rencana buka di Kota Tapis Berseri.

Mengikuti Training Jurnalistik di Tribun Lampung

Tiba di Lampung kami pun kaget, ternyata media tempat kami bekerja belum ada. Baru ada ruko dan masih kosong, hanya ada kami yang berasal dari Jakarta yang menempati.

Tak perlu waktu lama, ruko itu berubah menjadi ruang training dan ada sekitar 35 orang yang akan mengikuti pelatihan jurnalistik. Selama berbulan-bulan kami dipersiapkan untuk menjadi reporter yang sebenarnya.

Berbagai ilmu mereka turunkan, bukan hanya teori yang dipaparkan oleh dosen tapi benar-benar mereka yang ekspert. Orang-orang yang memiliki pengalaman di lapangan hingga puluhan tahun.

Melatih kami agar memiliki naluri jurnalistik dan bisa melihat sebuah nilai berita. Training ini pun disusun layaknya kerja reporter yang sebenarnya jadi ketika pas media itu buka tak ada lagi rasa kaget. Semua terasa biasa saja dan tak menyangka bila kami telah memiliki ID Card dengan logo media terbesar di tanah air.

Waktu berjalan begitu cepat dan tidak terasa sudah satu tahun. Pasca menjadi karyawan tetap hatipun bergejolak, ada hal lain yang harus saya dapatkan. Salah satunya tentu saja traveling keliling Indonesia.
Satu bulan setelah berpikir saya pun mengambil keputusan untuk resign.

Baca juga: Pekerjaan Saya adalah Mengerjakan Apa yang Saya Senangi

Saatnya Keliling Indonesia Gratis

Berpikir keras dan mencari alternatif untuk bagaimana bisa keliling Indonesia tanpa keluar biaya. Salah satu posisi yang memberi ruang paling besar untuk jalan-jalan tentu saja menjadi human resource.

Jodoh dan rezeki tak bisa ditebak dan seolah menjadi jawaban atas doa. Tak perlu waktu lama saya pun mengikuti Managemen Trainee Program yang diselenggarakan PT BFI Finance Indonesia.

Di perusahaan ini kami mengikuti sejumlah pelatihan untuk nantinya di tempatkan di cabang. Berhubung posisi HR ini adalah spesialis maka kami pun bisa memegang beberapa cabang.

Memiliki tugas utama untuk melakukan rekrutmen dan training tentu memberi kesempatan untuk lebih banyak jalan-jalan. Benar saja, sebelum penempatan dengan pegang area Indonesia Timur saya harus memberikan pelatihan ke sejumlah cabang.

Cabang-cabang yang saya kunjungi dalam hitungan hari kala itu ada di Jawa Timur (Surabaya, Babat, Lamongan, Bojonegoro, Tuban), Jawa Tengah (Kudus, Jepara), Bali, seluruh Sulawesi, Ambon, dan Papua. Lelah tentunya karena ada banyak kota yang harus didatangi.

Tapi rasa senang dan bahagia membuncah dan bisa mengatakan ini “gue banget”.

Usai bekerja jauh dari rumah rasa kangen itu muncul dan ingin kembali ke Jogja. Pulang ke Jogja dan bekerja di Jogja pun saya pilih.

Selama itu pula kegiatan menulis tetap saya lakukan meski tidak sebanyak saat ini. Setiap kota yang didatangi memberi persepsi yang berbeda setiap kali akan menulis tentang traveling.

Baca juga: Q n A Joko Yugiyanto

Benarkah Menulis adalah Jalan Ninjaku?

Kini dengan rasa bangga saya bisa mengatakan menulis adalah jalan ninjaku. Cara ini bisa membuatku bahagia dengan mudah dan sederhana.

Kini menulis telah menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan. Ada yang kurang bila dalam satu hari tidak menelurkan minimal satu tulisan.

Benar juga mantra dari pak Uki M Kurdi. Beliau adalah pimpinan redaksi Tribun Lampung saat saya bekerja. Kala itu pria berkumis ini bilang, “jek, dengan menulis maka kamu tetap akan bertahan hidup”.

Jek itu sendiri adalah panggilan saya selama ada di Lampung. Maklum kalau bilang Joko kurang greget dan harus ada alternatif lainnya.

Terakhir menjawab pertanyaan kawan apakah menulis saya pelajari secara otodidak mak saya katakan tidak. Banyak kegiatan atau pelatihan menulis saya ikuti dan pastinya saya masih akan terus belajar karena hingga kini hasil belum optimal juga.

Selamat Menulis

Tinggalkan komentar