Hmmm, Saya Juga Pernah Jadi Anak Teater Lho, Ini Buktinya

Last Updated on 26 Oktober 2020 by Joko Yugiyanto

Ingat betul dulu saat masih sekolah dasar, kira-kira awal 90-an dimana tiap kali ada 17 Agustusan pasti digelar serangkaian acara yang cukup meriah. Tak jarang pula ada drama atau teater dan yang mengisi adalah pemuda setempat.

pernah jadi anak teater
dokumen teater senthir

Kala itu saya hanya bisa menonton dan tak sekalipun bisa ikut tampil. Maklum saya bukan orang famous dan memiliki keberanian tampil di depan orang.

Sungguh kangen masa-masa itu dimana saya bisa melihat mereka para kembang dan kumbang desa tampil pada panggung hiburan. Menjadi ritus tahunan bagi desa-desa untuk menggelar 17-an dengan sejumlah pertunjukan tak terkecuali drama atau teater.

Pelan tapi pasti rasa malu untuk tampil di depan orang saya hilangkan. Salah satu cara yang saya ambil tentu saja dengan bergabung organisasi teater kampus.

Meski sama-sama teater dalam praktiknya ternyata teater kampus beda jauh dengan teater kampung (disclaimer versi saya lho ya).

Mungkin karena pesan yang hendak disampaikan itu berbeda sehingga pembawaan akan berbeda pula. Pada era kuliah saya dan kawan-kawan bermain teater karena ada kegelisahan atau pesan sosial yang hendak disampaikan kepada penonton.

Sedang pertunjukan yang dikemas di kampung lebih sebagai cara merayakan kemerdekaan. Tak ada suasana sedih atau seram.

Yang ada adalah keseruan, tawa dan menyanyi bersama. Kostum yang dikenakan pun lebih berwarna dengan dominasi merah putih dan lampu warna warni.

Dan saat ini ketika berbicara tentang teater tentu ada beberapa poin yang hendak saya sampaikan. Secara sederhana setidaknya ada beberapa tahapan yang akan dilalui bagi mereka yang bermain teater sekalipun hanya sebagai cameo atau pemeran sepintas lewat.

Baca juga: Jadi Seniman, Cita-Cita Tak Tersalurkan

Teater Sebagai Sarana Aktualisasi Diri

Apapun bentuknya tetap saya katakan teater adalah sarana aktualisasi diri. Dimana sebelum tampil kita akan melalui serangkaian latihan.

Terlepas panjang atau pendek, berat atau susah tetap ada kegiatan yang namanya latihan. Berlatih dan menempa diri untuk aktualisasi dan tumbuh kembang lebih baik.

Ada banyak cara untuk aktualisasi diri tapi dalam dunia teater setidaknya bisa mengajarkan akan banyak hal. Mulai dari olah tubuh, olah hati dan pikiran, sinergi dengan lawan main, lihat sikon, ambil peran dan lain-lain.

Kegiatan yang sudah pasti kompleks bagi mereka yang mau menyeriusi. Namun bila teater hanya sebatas untuk senang-senang maka bermain teater di kampung untuk 17-an sudah cukup.

Teater Sebagai Sarana bersenang-Senang

Mengerucutkan poin diatas, bila kita bermain teater diacara 17-an ranah kampung hampir pasti bertujuan untuk senang-senang. Sebagai satu cara untuk bersyukur saat ini sudah merdeka dan kita tinggal mengisi berbagai kegiatan yang positif.

Mereka yang bermain hampir bisa dipastikan semua pemuda atau warga setempat. Pastinya cerita yang diangkat adalah kisah-kisah populer yang hampir pasti semua orang tahu jalan ceritanya.

Dalam praktiknya pun nanti para pemain bebas berimprovisasi sesuai dengan sikon selama tidak terlalu melenceng. Suasana yang disuguhkan pun mayoritas adalah hingar bingar karena bisa jadi tidak ada para pemain atau kru profesional.

Yang ada adalah ini malam kita kita harus bersenang-senang sembari mengingat kisah perjuangan tempo dulu.

Teater Sebagai Cara Menyampaikan Pesan

Lain dengan teater yang saya mainkan di kampus. Untuk satu pementasan kita bisa berlatih hingga puluhan kali.

Ada jalan panjang yang harus dilalui sebelum menentukan seseorang akan bermain sebagai apa. Latihan basic pun akan terus diterapkan meski bisa jadi tidak ada pementasan. Dikatakan basic karena latihan ini lebih pada olah suara, olah tubuh dan mentalitas.

Naskah bisa jadi dibuat mereka yang paham tentang alur sebuah cerita. Atau bisa juga dibuat oleh sebuah tim kreatif.

Yang paling nampak dari karya teater anak kampus pastinya memiliki sebuah pesan yang hendak disampaikan. Detail terkait gestur dan vokal pun akan sangat berpengaruh selama sesi latihan.

Bila tidak sesuai maka bisa jadi akan diulang berulang kali untuk mendapat hasil sempurna. Maka jangan heran tiap usai pementasan para pemain teater ini akan merasa lega karena telah berhasil menuntaskan sebuah misi.

Bukan sebatas bermain tapi lebih dari itu adalah pesan-pesan moral atau sosial yang hendak disampaikan. Dalam pesan-pesan itu seringkali juga ditemukan satire atas apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Paradoks atas apa yang mereka sampaikan dengan apa yang ada dalam dunia nyata itu nampak jelas.

Maka dari itu bagi kamu yang belum pernah nonton teater kampus maka ada baiknya untuk mulai menonton. Tidak harus ke kampus atau ke hall secara langsung. Kini di YouTube ada banyak dokumentasi yang mereka simpan.

Berburu Hiburan Murah Meriah

Saya pun ingat betul pada masa kuliah antara 2004 – 2008 dimana tiap malam minggu kadang saya ke Gedung Kesenian Sosiatet Militer Jogja. Berharap ada pentas teater entah dari kampus mana.

Datang sendiri malam-malam mengendarai motor Honda Fit. Dan di lokasi saya pun bisa bertemu dengan kawan-kawan pecinta teater se Jogja.

Ada yang dikenal dan ada yang tidak. Yang pasti kami akan duduk manis sembari menikmati pentas mereka dengan live musik.

Heran juga satu proses produksi yang sangat panjang tiket hanya dilepas murah. Kadang Rp 3 ribu, kadang Rp 5 ribu dan mereka yang melepas diangka belasan ribu pastinya sudah punya nama.

Baca juga: 6 Organisasi yang Bikin Saya Nganu Banget

Pernah Jadi Anak Teater juga

Oh iya bagi kamu yang penasaran kalau saya dulu juga pernah jadi anak teater maka bisa berkunjung ke Teater Senthir. Teater ini adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Salah satu alasan kenapa saya mau masuk kampus ini padahal dulu tidak pernah tahu sama sekali kampus di Jalan Wates Km 10, Bantul, Jogjakarta. Organisasi yang saya ikuti dari sejak masuk bangku kuliah hingga usai wisuda ini mengajarkan saya akan banyak hal.

Terutama adalah mentalitas untuk berani tampil percaya diri di depan orang. Apa yang kamu lihat saat ini tentang saya mayoritas di dapat dari tempat ini.

Kalau saja kamu suka dengan teater dan diskusi akan banyak hal. Dengan senang hati saya membuka kontak baik itu melalui WhatsApp atau sosial media.

Setidaknya cara ini mampu me-refresh hidup bukan hanya kerja dan ngeblog saja. Ada hal lain yang sangat sayang bila ditinggalkan.

Tinggalkan komentar