Sehari Jadi Bapak Rumah Tangga, Bisa Apa

Last Updated on 15 Maret 2021 by Joko Yugiyanto

Hari ini, Senin 15 Maret 2021 menjadi hari yang cukup unik. Hal ini karena selama satu hari full saya akan mencoba menjadi Bapak Rumah Tangga.

Yap, menjadi bapak-bapak yang totalitas untuk mengurusi rumah tangga. Dari bangun tidur hingga jelang tidur kembali. Saya ingin menggantikan peran istri yang kebetulan tidak enak body.

Berhubung hak cuti tahunan saya masih ada 24 hari kerja maka bolehlah diambil untuk lebih lama dengan mereka. Menjadi bapak rumah tangga baik untuk istri maupaun anak.

Meskipun sejatinya hari ini sedang work from home. Tapi kurang afdol saja rasanya bila harus dihinggapi pekerjaan kantor yang tak kunjung usai. Pada praktiknya tetap saja ada satu dua karyawan yang menghubungi dan harus disuport.

Baca juga: Tantangan di Era Pandemi, Antara yang Bangkit dan Tersisih

Menjadi Bapak Rumah Tangga itu Sesuatu Banget

Meminjam istilah ibu rumah tangga dimana mereka ini adalah orang-orang yang fokus diranah domestik. Saya pun demikian, pagi hari biasanya saya mandi dan bekerja tapi kini tidak lagi.

Ada tabung gas yang kosong dan merengek untuk isi ulang. Setelah itu belanja kebutuhan Nyonya. Maklum ia lagi sakit dan harus dimanjakan.

Anak semata wayang pun tak mau kalah dimana ia pun meminta untuk dibelikan sesuatu. Agar mereka bisa diam mau tidak mau harus diberi “suap.”

Setelah itu sampai di rumah cucian menanti. Beruntung ada mesin yang siap untuk membantu sehingga tidak perlu ambil pusing. Sembari membersihkan baju saya pun masak ala kadarnya untuk makan kami sekeluarga.

Waktu belum menunjukkan pukul 09.00 WIB tapi cucian dan masakan sudah kelar. Barang sesaat melihat ada update apa di whatsapp.

Benar saja, meski saya sedang cuti tapi pekerjaan tak bisa ditahan. Maklum saja bekerja diranah bisnis suport artinya kita harus lebih siap waktu lebih panjang daripada yang lain karena mereka yang akan dibantu ada di seluruh Indonesia.

Tak mungkin juga memberitahukan kepada mereka satu persatu bila saya sedang cuti. Yang ada kemudian hanyalah minta waktu, maaf kalau slow respont.

Beranjak siang, mungkin karena istri sedang sakit maka yang ada ingin dimanja, ingin diperlakukan lebih dan ingin lebih dilayani. Bersyukur pastinya karena memiliki hak cuti yang bisa diambil.

Artinya saya benar-benar punya alasan untuk meringankan beban istri dengan sehari menjadi bapak rumah tangga. Barang sesaat menggantikan ritus untuk urusan domestik.

Namanya orang sakit, makan apa saja terasa hambar. Terlebih saat ini dimana pandemi belum berakhir maka wajar muncul ketakutan, “jangan-jangan terinfeksi.”

Namun tetap yakin selama tidak ada kontak dan tidak ada tanda-tanda primer yang mengarah ke sana maka sakit ini adalah sakit pada umumnya. Masuk angin seperti biasa dan seyogyanya dengan cukup istirahat barang sejenak maka akan kembali normal.

Baca juga: 5 Langkah Sederhana Hentikan Pandemi, Semua Bisa Berperan Serta

Ritus yang Kembali Terulang

Waktu terus berjalan dan apa yang dimulai pada pagi hari maka terulang kembali jelang sore hari. Mulai dari agenda memasak hingga bersih-bersih.

Mungkin khusus bagi saya cara ini (menjadi bapak rumah tangga) bisa menjadi terapi dimana saya bisa merasakan nikmat lain selain bekerja dan bekerja diranah kapitalistik. Dimana dengan cara ini saya cukup menikmati semua aktivitas karena hanya terjadi sehari saja.

Lain cerita bila ini terjadi berulang setiap minggu hingga setiap tahun pastinya yang ada hanyalah rasa bosan. Beruntung para lelaki (khususnya saya) yang memiliki pasangan dan memilih menjadi ibu rumah tangga.

Kalau boleh memilih pastinya mereka tidak ingin ada di kondisi ini. Satu kegiatan yang terus berulang dan kemudian muncul kata membosankan.

Hanya orang hebat dan terpilih yang ikhlas menjalani profesi ibu rumah tangga. Selayaknya mengapresiasi mereka dengan memberikan yang terbaik semampu kita.

Bukan hanya dengan gelimang harta dan kemewahan tapi lebih pada bagaimana berbagi suka dan duka sesuai peran masing-masing.

Baca juga: Metode Parenting Anak Usia Dini

Sehari dapat Apa Coba?

Bila dicermati dengan sehari menjadi bapak rumah tangga tidak banyak hal yang bisa saya lakukan selain urusan masak dan mencuci. Padahal disisi lain juga ada kegiatan lain yang harus dilakukan semisal mendidik anak.

Mengajar anak agar kelak menjadi pribadi yang tangguh. Itu satu cita-cita yang selalu saya idam-idamkan.

Bagaimana anak senantiasa bisa bangkit saat terjatuh. Tidak manja dan cengeng hanya karena hal kecil.

Mengajarkan anak untuk memiliki welas asih kepada sesama. Menjadikan diri mereka sosok yang bermanfaat untuk yang lain dan masih banyak pelajaran lain yang harus diberikan.

Tapi untuk saat ini paling penting bagi saya adalah anak berani berekspresi. Mengatakan dan memperjuangkan apa yang ia senangi agar bisa ditelusuri minat bakatnya. Berharap kelak ia bisa survive dengan apa yang membuatnya senang.

Suatu saat nanti mungkin ada saatnya saya pribadi ambil alih peran menjadi bapak rumah tangga dan kita lihat ada progres signifikan atau tidak.

Tinggalkan komentar