2 Tips Sukses Berkeluarga bagi Wanita Karir

Last Updated on 13 Agustus 2020 by Joko Yugiyanto

Tips sukses berkeluarga bagi wanita karir harus dipahami dengan baik. Sebab kesuksesan berkeluarga tetap harus diprioritaskan dibanding lainnya.

wanita karir
brilio.net

Menjadi wanita karir yang padat akan aktivitas memang sudah menjadi hal umum di daerah perkotaan. Sinetron di televisi bahkan telah ikut berperan dalam hal ini. Kini bukan hanya di kota, banyak wanita desa pun bermimpi menjadi wanita karir.

Namun sesibuk apa pun aktivitas dalam berkarir, tetap tidak boleh melupakan kewajiban utama. Baik sebagai istri maupun ibu bagi anak-anak di rumah.

Tips Sukses Berkeluarga bagi Wanita Karir

Dalam hal emansipasi, wanita memang tidak dilarang untuk bekerja di luar rumah seperti halnya pria. Satu hal yang tidak boleh dilupakan, emansipasi tidak menggugurkan kewajiban utama seorang wanita.

Hanya saja perlu diperhatikan batasan-batasan yang sering kali dikenal dengan namanya norma. Tanpa hal itu bisa jadi akan kebablasan dan keluarga akan menjadi korban.

1. Tetap Menjadi Wanita Bertanggung Jawab

Menjadi wanita karir merupakan salah satu bukti seorang wanita memiliki nilai tanggung jawab lebih. Sebab mencari nafkah bukanlah bagian dari tanggung jawabnya.

Lebih dari itu adalah bentuk ekspresi akan kreativitas yang ada. Bagi mereka yang memiliki pasangan tentu ini juga sebagai bagian dari cara membantu keuangan suami.

Tanggung jawab bagi wanita dewasa tentu saja menjadi seorang istri sekaligus sebagai ibu bagi anak-anak mereka.

Kesibukan bekerja tidak boleh membuat seorang wanita tak memiliki waktu bersama keluarganya. Melayani suami dengan baik, salah satu poin penting dalam keutuhan berumah tangga.

Baca juga: Pahami Parenting Anak Bila Tidak Ingin Menjadi Blunder

Waktu yang sedikit hingga tidak ada, biasanya yang memunculkan perselisihan dalam keluarga. Apalagi kemudian dengan kemunculan orang ketiga.

Seperti halnya ibu rumah tangga biasa. Sekali pun suami memberikan uang bulanan lebih dari cukup. Jika kebutuhan batinnya tidak terpenuhi, maka hal-hal negatif bisa terjadi.

Perlu mendapat perhatian lebih tentunya bagi mereka yang memiliki anak dalam usia emas. Tumbuh kembang mereka harus selalu diimbangi dengan perhatian kedua orang tuanya.

Anak yang kekurangan kasih sayang, cendrung tumbuh dengan sedikit penyimpang. Misalnya saja malas belajar hingga menjadi nakal.

Gaji yang diterima memang bisa mempekerjaan asissten rumah tangga. Namun bukan berarti kita bisa melepas tanggung jawab begitu saja. Tetap seorang wanita seyogyanya harus memiliki waktu bersama keluarga.

Mengobrol dan bermain, bertanya tentang aktivitas anak, dan berbagai perhatian lainnya akan membuat anak tidak merasa kehilangan sosok seorang ibu.

Jangan lupa berikan pemahaman agar anak mengerti posisi ibunya. Jangan sampai anak menganggap ibunya tidak menyayangi, hanya karena waktu kebersamaan yang tidak optimal.

Hal lain yang tidak boleh disepelekan juga saat mempekerjakan assiten rumah tangga, terlebih jika bertugas mengurus anak. Mereka bisa menjadi pengganti ketika sosok ibu sedang tidak ada di rumah karena sedang bekerja.

Selain memastikan ia memiliki perilaku baik, utamakan juga yang memiliki pemahaman agama memadai.
Perlu diketahui setiap hari anak akan menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Memiliki asissten berperangai baik, membuat anak memiliki sosok teladan yang baik pula.

Anak adalah peniru ulung, jangan sampai ia meniru hal-hal negatif dari lingkungannya. Salah satu cara membuat lingkungan rumah yang baik, adalah memiliki asissten rumah tangga yang baik pula. Rajin ibadah merupakan poin terpenting bila ingin memiliki anak yang sholeh.

Baca juga: Benarkah ASUS VivoBook S14 S433 Hanya untuk Gen Z?

2. Jangan Membawa Beban Pekerjaan ke Rumah

Ketika di rumah, sebaiknya setiap wanita mampu memposisikan sebagai seorang istri dan ibu saja dan tak lebih meski di kantor memiliki jabatan tinggi. Sebisa mungkin seluruh pekerjaan dapat diselesaikan di kantor.

Tak ada pekerjaan yang di bawa pulang atau bisa jadi selama di rumah akan kembali bekerja. Sedikit saran bila beban pikiran terlalu berat dan akan berdampak kurang baik bila langsung pulang maka ada baiknya tahan dulu.

Kasihan bukan bila mereka yang di rumah bisa jadi akan menjadi korban. Padahal mereka sama sekali tidak tahu apa-apa.

Unek-unek yang tidak dikeluarkan akan menjadi beban negatif dalam diri dan pikiran. Jika sampai terbawa pulang, anak-anak dan semua orang rumah bisa terkena dampaknya.

Tentu tidak elok, anak menunggu seharian. Ketika ibunya pulang membawa beban. Akibat beban pikiran tak jarang membuat seseorang mudah tersulut emosinya.

Tinggalkan komentar