Malam itu sebenarnya tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya. Saya masih duduk di depan laptop, ditemani secangkir kopi yang entah sudah dingin sejak kapan.

Layar penuh dengan draft tulisan, catatan materi pelatihan, dan beberapa tab browser yang belum sempat ditutup. Sebagai seorang blogger yang sehari-hari berkutat dengan dunia tulis menulis artikel hingga menjadi Pendamping UMKM sering kali saya harus tidur lebih malam.
Beruntung ada kipas angin yang ku setel pelan dan cukup mendinginkan kepala. Bila tidak, bisa jadi kamar berukuran 3×3 meter ini akan terasa panas.
Menjadi ritus, pada siang hari saya melakukan pendampingan dari satu tempat ke tempat lain dan malam baru membuka laptop baik itu untuk membuat laporan maupun untuk menulis artikel di beberapa kanal yang saya kelola.
Orang bilang sungguh ironis, justru di waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat, saya sering merasa menjadi waktu paling produktif.
Jam di pojok layar kanan bawah laptop menunjukkan pukul 23.47. Sudah mau tengah malam dan saatnya istirahat. Jujur saya mengupayakan bagaimana sebisa mungkin jam 00.00 WIB harus tidur.
“Sebentar lagi selesai,” gumam saya dalam hati. Kalimat yang sama, yang sudah terlalu sering saya ulangi.
Antara Produktivitas dan Istirahat
Menjadi produktif itu sesuatu yang menyenangkan. Ada rasa puas ketika satu pekerjaan selesai, ketika ide berhasil dituangkan, atau ketika mitra UMKM dampingan merasa terbantu.
Tapi tanpa sadar, ada harga yang harus dibayar. Apalagi kalau bukan waktu istirahat yang berkurang. Atau bisa juga kualitas tidur yang menurun.
Malam itu, seperti biasa, saya akhirnya menutup laptop persis pada tengah malam waktu menunjukkan 00.00. Tubuh terasa lelah, punggung sedikit pegal, dan mata mulai berat.
Saya pikir, begitu kepala menyentuh bantal, tidur akan datang dengan sendirinya. Ternyata tidak dan ada sesuatu yang kurang bila kipas angin tadi tidak diputar ke arah tempat tidur.
Bukan hanya untuk menghalau nyamuk tapi menjadi jurus ampuh untuk tidur lebih nyaman. Seolah menjadi teman setia dan pas, tidak berputar terlalu kencang tapi cukup sehingga tidak memberi efek dingin berlebihan.
Menjadi penyelamat untuk tidur lebih nyenyak tanpa harus menarik selimut. Menyalakan alat sederhana ini seolah telah menjadi candu, entah apakah bumi kian panas. Dan beruntungnya benda ini bisa awet hingga bertahun-tahun.
Bangun dengan Perasaan Berbeda
Saya bisa merasakan dampak apabila tidur dengan kipas dan tanpa menggunakan kipas. Terutama pada setengah perjalanan tidur, saat kipas tidak ada tubuh akan terasa gerah dan berkeringat. Selain itu masih ada suara nyamuk yang begitu nyaring di telinga.
Berbeda kemudian bila saya tidur dibersamai dengan kipas angin. Saya bisa tidur hingga pagi hari tanpa gangguan, tanpa rasa gerah dan kaos yang basah keringat.
Saya percaya tidur berkualitas itu bukan hanya tentang durasi atau seberapa lama kita tidur. Namun lebih dari itu adalah seberapa kualitas suasana sebelum dan saat kita tidur.
Kipas Angin dan Kualitas Istirahat
Tidak salah kemudian bila saya mengaitkan tidur berkualitas itu akan sangat bisa berkat dukungan ‘alat rumah tangga’ yang tepat. Tidak terlalu kencang dan tidak terlalu lambat putarannya. Dan yang tak kalah penting tidak ada suara lain yang tidak perlu.
Entah sudah berapa tahun saya dan anak ketergantungan untuk beraktivitas hingga tidur dengan ditemani kipas angin. Terkadang saat cuaca cukup dingin kipas ini saya pantulkan dengan tembok sehingga saya tetap dapat manfaatnya.
Jujur bagi saya, kipas memberikan tiga hal sederhana mulai dari yang pertama memberi kenyamanan suhu, memberi kesan tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.
Kedua, kipas mampu aliran udara yang membuat tubuh lebih rileks. Bayangkan bila udara tidak berputar tentu rasanya akan begitu panas.
Dan ketiga yang menurut saya paling penting, suara konstan yang dihadirkan mampu membantu menenangkan pikiran. Sesuatu yang bisa jadi jarang disadari tapi itu “fun fact.”
Sebagai blogger dan pendamping UMKM seringkali kita terjebak dengan rutinitas setiap hari. Sesuatu yang bisa jadi akan terbawa sesaat jelang tidur dan hal itu harus diistirahatkan.
Kembali ke Hal yang Sederhana
Kipas bisa jadi Adalah suatu peralatan rumah tangga yang begitu sederhana. Namun dampak yang ada begitu luar biasa, Dimana kita tidak perlu beli sesuatu yang mahal karena kini kipas bisa dibeli dengan harga ratusan ribu saja.
Dan diantara sekian banyak kipas tentu Miyako menjadi pilihan terbaik, kipas angin kesayangan Nikita Willy ini brand sejuta umat begitu mudah ditemukan di setiap rumah karena harga yang ditawarkan murah dan awet. Bukan hanya kipas angin tapi bisa jadi akan menemukan produk lainnya seperti rice cooker yang irit listrik.



