Gagal Dalam Karir Terjadi Secara Sistematis, Bukan Tiba-Tiba

Last Updated on 9 Januari 2020 by Joko Yugiyanto

Guru adalah pengalaman yang paling berharga. Sangat sepakat dengan kalimat bijak ini dimana kita bisa belajar dari pengalaman diri sendiri ataupun pengalaman orang lain.

Gagal Dalam Karir Terjadi Secara Sistematis, Bukan Tiba-Tiba sengaja saya pilih menjadi judul. Sebagai pengingat bagi anakku kelak bahwa kegagalan yang terjadi pada ayahnya bukan serta merta terjadi secara tiba-tiba.

Seringkali dulu saat Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar kita telah di dekatkan dengan apa yang namanya cita-cita. Salah satu contoh adalah menulis cita-cita dalam buka sampul.

Saya secara pribadi bisa mengatakan dari TK, SD, hingga SMP tak memiliki cita-cita atau keinginan kelak akan menjadi apa. Jelang kelulusan SMP pun angan itu jauh dari panggang.

Yang ada orang tua berpesan untuk cari STM dan setelah lulus bekerja. Sangat sederhana sekali pemikiran orang tua yang mungkin tak pernah menanyakan kelak anaknya ingin menjadi apa.

Lulus STM 4 tahun dan bekerja masih juga belum menemukan cita-cita itu apa. Waktu terus berlalu dan setelah 2 tahun kerja di salah satu perusahaan terbaik nasional tidak diangkat menjadi karyawan tetap.

Yang ada kala itu penawaran untuk mulai kontrak satu kembali. Ingat sesaat sebelum habis kontrak diantara beberapa rekan kerja mengatakan ada baiknya untuk mencukupkan kerja di pabrik dan memilih opsi lain.

Kala itu opsi yang saya pilih adalah kuliah. Berbekal tabungan yang lebih dari cukup maka saya pulang kampung. Mencoba berkunjung ke beberapa kampus dan memilih jurusan dirasa cocok.

Entah kenapa dari sekian banyak fakultas atau jurusan yang ada justru tertarik dengan psikologi. Padahal di kampus itu juga ada jurusan teknik elektro. Sama dengan jurusan saat saya menempuh ilmu di STM.

Terlalu takut dengan berbagai mata pelajaran yang ada di teknik maka Psikologi adalah pilihan terbaik. Meski telah masuk dunia kampus apa yang namanya cita-cita itu belum juga nampak.

Yang ada dalam bayangan saya, kelak kerja itu hanya senang-senang. Sangat sederhana sekali, kerja itu hanya bersenang-senang.

Selama kuliah waktu habis di kegiatan kampus. Berbagai organisasi saya masuki mulai dari Pers Mahasiswa, Teater, Radio Kampus, Pecinta Alam dan lain-lain. Kuliah atau belajar bukan lagi fokus utama.

Berkumpul dan berdiskusi menjadi kegiatan yang lebih menarik daripada sekedar mengerjakan tugas dari dosen. Hingga tak jarang mungkin bila di hitung secara jam saya termasuk salah satu paling banyak yang menghabiskan waktu di lingkungan kampus.

Empat tahun masa kuliah berakhir dan harus memutuskan kembali untuk kerja. Pesta telah usai dan harus memulai kembali.

Tak ada segan untuk masuk ibu kota kembali. Salah satu perusahaan yang saya lamar adalah media televisi. Entah kelak menjadi apa tidak tahu, hanya ingat betul kala itu saya mengikuti psikotes dan gagal.

Berikutnya saya melamar sebagai reporter ke salah satu media koran cetak yang menjamur di seluruh Indonesia. Kala itu kalau tidak salah ada sekitar 73 atau 83 yang mengikuti seleksi hingga kemudian menyisakan 3 nama. Saya, Yaspen Martinus dan Muhammad Yazid, 3 orang dengan latar belakang yang sangat bertolak belakang.

Saya kental dengan logat Jawa medok hingga siapapun yang bertegur sapa tak perlu tanya berasal dari mana. Yaspen Martinus mungkin sosok jurnalis paling ideal karena dia memang memiliki latar belakang yang sesuai. Satu lagi M Yazid putra Betawi asli yang kuat akan banyolannya.

Kita bertiga dikirim ke Lampung untuk melengkapi tim yang telah ada. Salah satu kehebatan perusahaan ini yang saya lihat adalah bagaimana mereka menciptakan keragaman itu ada dan bersatu padu.

Setahun lebih menjadi reporter dan merasa ada ketakutan untuk tidak bisa jalan-jalan maka saya memutuskan untuk bekerja yang memberikan benefit untuk jalan-jalan gratis. Tuhan maha baik itu benar adanya.

Di Ruwa Jurai itu pula saya mengadu nasib untuk menjadi HC Area. Dari puluhan pelamar menyisakan 2 nama dan saya harus menelan pil pahit karena gagal.

Tak mau menyerah, saya pun ikut seleksi kembali di Jogja dan benar saja kali ini saya sukses kembali ke Jakarta. Di tempat ini lah orang yang memproses saya di Lampung memberi tahu bahwa mereka prefer putra daerah.

Petualangan sejatinya mulai dari sini, dengan pekerjaan ini setidaknya 1/3 Indonesia bisa saya kunjungi. Sebagian kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Ambon, Sulawesi dan Papua saya pernah menginjakkan kaki disana.

Tak cukup dengan apa yang ada mungkin itu sifat dasar manusia. Dengan apa yang didapat dirasa masih kurang juga hingga memutuskan untuk mencari pekerjaan kembali.

Idealnya bila seseorang berpikir untuk pindah kerja seyogyanya ia berpikir tentang karir atau berupaya mendapat yang lebih baik. Tapi ini tidak, berbagai bidang pekerjaan coba diambil dan pada akhirnya stagnan pada kondisi di bawah.

Bila saja dulu hobi pindah kerja tapi fokus pada bidang dipilih mungkin lain cerita. Di saat rekan-rekan lain pada posisi lebih baik sementara saya yang ada โ€˜gini-gini aja.โ€™

Berbekal pengalaman ini, tak ingin anakku kelak mengalami hal serupa maka sedari dini berupaya menyiapkan satu karir untuknya. Memberikan dan memfasilitasi apa yang ia senangi, berharap ia bekerja dengan bersenang-senang.

Menggabungkan antara pasion dan hobi agar seiring sejalan tanpa harus mengorbankan cita-cita. Tak ada lagi istilah gagal dalam karir, yang ada kemudian adalah tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Membekali berbagai pengetahuan agar kelak segera sadar hidup adalah pilihan dan terlalu sayang bila terlewatkan dengan hal-hal biasa. Percaya saya rezeki sudah di gariskan dan kita tinggal menjemput.

Satu pemikiran pada “Gagal Dalam Karir Terjadi Secara Sistematis, Bukan Tiba-Tiba”

Tinggalkan komentar