Psychology

5 Ciri Pendidik yang Baik, Penting Diketahui Setiap Orang Tua

Ciri pendidik yang baik bukan hanya penting diketahui para guru. Tapi lebih penting sejatinya bagi semua orang tua karena kita adalah pendidik pertama dan utama, khususnya untuk buah hati tercinta.

Sangat jelas dalam agama pun dikatakan, ibu adalah madrasah pertama anak. Ini menunjukkan betapa pentingnya kita sebagai suami untuk mendukung dan berupaya bersama-sama menjadi pendidik yang baik.

5 Ciri Pendidik yang Baik

Selain senantiasa terus belajar mendalami ilmu agama dan pengetahuan lainnya, ada beberapa ciri pendidik yang baik. Dan berikut setidaknaya 5 ciri pendidik yang baik:

1. Penyayang

Memiliki hati yang penyayang adalah salah satu tanda keimanan. Rasul pun menjelaskan bahwa hanya orang penyayang yang akan masuk surga. Bukan hanya penyayang terhadap anak, tapi juga semua umat manusia.

Hati yang penyayang akan membuat siapa pun nyaman ketika berada di dekatnya. Anak selain akan merasa lebih dekat, ia juga akan lebih mudah diarahkan. Mayoritas anak akan menjadi bandel ketika anak merasa kurang kasih sayang. Hingga akhirnya mencari perhatian orang lain.

Baca juga: Masa Kecil Kurang Bahagia, itu (bukan atau mungkin) Saya

2. Tenang dan Tidak Terburu-Buru

Salah satu ciri pendidik yang baik adalah sikapnya yang tenang dan tidak terburu-buru. Dengan kedua hal ini, maka kita akan terhindar dari hal-hal yang bisa merugikan anak.

Misalnya saja, ketika kita memanggil anak ia diam saja. Jangan lekas marah, bisa saja anak sedang fokus pada hal lain. Begitu pun ketika anak berbuat salah, selidikilah dulu bisa jadi itu bukan murni kesalahannya.

3. Lembut dan Tidak Kasar

Kelembutan selain mendamaikan, ia juga kekuatan yang sangat dahsyat. Dengan kelembutan seseorang bisa memikat hati siapa pun dengan mudah.

Coba bedakan, ketika kita sebagai orang tua pun bila mendengar orang lain berbicara kasar. Bisa jadi kita akan malas untuk mendengarkan apalagi memperhatikan. Yang ada kemudian rasa marah dan energi negatif.

Beda dengan kata-kata yang diucapkan dengan sangat lembut. Rasanya ingin sekali terus menyimak. Anak pun tentunya akan rindu bila orang tua bertutur kata dengan lembut.

Saat berbicara pun anak akan benar-benar fokus mendengarkan. Terhanyut dengan kelembutan dan kata-kata bijak yang diucapkan. Tak ingin mendengar suara lain. Selain suara para orang tua yang sedang berbicara dengan kelembutan.

4. Tidak Mudah Marah

Marah adalah satu energi negatif dan suatu hal yang terkadang bisa menghancurkan, terutama jika bukan pada tempatnya. Tak sedikit anak jauh dari orang tua karena sering dimarahi. Akan lebih parah jika menjadi pelampiasan dari masalah orang dewasa.

Jangan buat anak menjadi pribadi pendendam dengan memarahinya. Marah tidak selalu salah, terutama jika untuk mendidik dan mengingatkan. Hanya saja semua harus pada tempatnya.

Jika memang harus marah, jangan sesekali memarahi anak di dekat orang banyak. Itu dapat merusak perasaan dan psikologis. Marah lah hanya bila sedang ada ada orang lain, atau setidaknya ketika di rumah sendiri.

5. Seimbang dan Proporsional

Ciri pendidik yang baik adalah yang bisa seimbang dan proporsional. Bagi saya pribadi tidak terlalu percaya konsep hukuman akan merubah perilaku anak dengan baik. Yang ada adalah bagaimana reward akan merubah perilaku anak.

Hadiah tidak selalu berbentuk materi, pujian dan senyuman tulus pun akan sangat membuatnya bahagia. Jangan pernah ragu untuk memberikan pujian bila anak memang pantas mendapatkannya.

Sesekali buatlah komitmen saat menemani anak belajar. Misalnya saja, membelikannya sepeda baru jika ia menjadi peringkat satu di sekolah. Selain semakin memotivasi anak dalam belajar. Hal ini juga akan membuatnya mengerti akan makna menghargai.

Saya yakin ada lagi hal-hal lain dari ciri pendidik yang baik. Lebih penting dari itu, pendidik yang baik pasti terlahir dari ilmu dan keimanan yang baik.

Atas dasar itu, saya selalu mengingatkan diri sendiri ataupun istri untuk terus belajar. Terutama menjadi pendidik bagi buah hati tentu itu adalah proses sepanjang umur.

Tak ingin menyesal bukan bila ternyata kita melakukan kesalahan tapi tidak menyadari dan akhirnya berakibat fatal.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close