Katakan Tidak Pada Body Shaming

Last Updated on 2 Desember 2020 by Joko Yugiyanto

Sedih rasanya hingga saat ini masih begitu mudah melihat adanya body shaming baik itu dalam kehidupan sehari-hari maupun di sosial media. Tragisnya lagi hal itu justru terjadi sesama wanita.

body shaming
suara.com

Mereka seolah mengkotak-kotakan, melakukan kodefikasi yang sebenarnya tidak perlu. Sebut saja saja istilah gendut, gembrot, kerempeng, kurus kering masih dengan mudah meluncur. Mengomentari apa yang dilihat bila tidak sesuai dengan ideal mereka.

Padahal semua itu hanyalah penampakan luar saja. Paling penting adalah hati nurani yang jernih dan pikiran yang senantiasa berkembang. Body atau tubuh hanyalah kemasan belaka.

Menariknya body shaming ini ternyata tidak saja mengomentari orang lain saja. Namun pada sebagian orang justru berkomentar negatif pada diri sendiri.

Akibatnya sudah pasti menurunnya rasa percaya diri. Khususnya untuk bertemu dengan orang lain.

Pada beberapa kasus yang cukup parah pastinya akan menurunkan kadar produktifitas hingga semangat hidup.
Orang-orang yang cukup kuat secara mental bisa jadi hal ini tidak akan terjadi. Tapi sayangnya tidak semua orang memiliki kekuatan ini.

Dengan demikian maka ada baiknya satu sama lain saling menguatkan. Memberikan kalimat positif dan pujian akan menguatkan diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Hentikan Body Shaming dari Diri Sendiri

Kata-kata yang acapkali kita dengar ini bisa jadi diterima dengan sangat mudah oleh sebagian orang dan dianggap biasa saja. Namun demikian belum tentu bagi yang lain dimana mereka kemudian akan tertekan dan merasa tidak percaya diri.

Bagi mereka yang tidak bisa menerima hal ini dengan baik bisa jadi tidak akan ada keberanian untuk keluar rumah. Merasa rumah atau berdiam diri adalah tempat terbaik dan bertemu dengan orang lain adalah sebuah ancaman.

Bisa jadi bila itu terjadi pada orang lain kita sebagai laki-laki cukup memaklumi. Lain cerita bila yang menjadi “sasaran tembak” adalah keluarga, baik itu pasangan, anak ataupun orang tua.

Dimulai dari Diri Sendiri

Body shaming itu tak akan terjadi kalau saja tiap individu mampu menahan diri untuk tidak melontarkan kalimat yang menyakiti. Berpikir ulang untuk memilih kata yang tepat agar tidak bias dan membuat orang lain tersinggung pastinya.

Tidak susah bila kita mau melatih menahan diri. Namun bagi mereka yang terbiasa spontan dan ceplas ceplos tentu akan menjadi PR besar.

Kalau saja satu demi satu mampu menahan diri pastinya akan menjadi energi positif yang kemudian menyebar ke area sekitar. Dari satu orang ke orang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.

Saling Bantu dan Saling Jaga

Tak ada pilihan lain kecuali untuk saling bantu dan saling jaga. Khususnya mereka bagi para wanita dimana seharusnya mereka bisa saling men-suport.

Bentuk dukungan ini pun macam-macam. Mulai dari yang terlihat hingga tidak terlihat.

Terlebih saat ini di masa pandemi dimana setiap orang hendaknya bijak bersosial media. Tidak menulis kalimat yang berdampak body shaming tentu menjadi pemandangan yang sangat indah dan menentramkan

Perlu diketahui keberagaman itu menjadi sebuah keniscayaan dan tidak ada aturan dimana setiap orang itu harus sama. Justru bila semua yang ada di sekitar kita itu sama menjadi satu yang kurang menarik. Perbedaan itu menciptakan keindahan dan membuat satu sama lain mudah mengenali.

Selain saling bantu dan saling jaga akan lebih baik lagi bila sesama wanita juga bersinergi untuk tumbuh kembang. Dimana masing-masing berhak untuk berkembang dengan optimal sesuai dengan cara dan passion masing-masing.

Tinggalkan komentar