Aku Pengen Sambat Koyo Liane

Last Updated on 26 Desember 2020 by Joko Yugiyanto

Jujur, saya pun ingin berkeluh kesah sama seperti yang lain. Demikian kira-kira arti dari judul yang saya tulis diatas.

Kalau ditanya pernahkah saya mengeluh secara terang-terangan? Mungkin jawabannya tidak, hal ini karena kecenderungan semua kegelisahan yang ada saya tuangkan dalam bentuk tulisan biar bisa ‘sambat koyo liane’.

Mencoba mengubah dari energi negatif menjadi energi positif. Tapi kali ini tidak, saya benar-benar ingin mengeluh atas semua yang terjadi.

Diduga ini aib bisa saja demikian tapi tak apa. Sekali-kali bolehlah sama seperti yang lain, (aku pengen sambat koyo liane,-red).

Terlalu banyak kegagalan atau bisa jadi banyak agenda yang tidak tertuntaskan menjadi alasan utama kenapa saya ingin marah dan mengumpat. Tapi ke siapa saya yang tidak tahu.

Yang pasti saya marah dan kecewa terhadap diri sendiri kenapa sejumlah agenda tidak terealisasi. Resolusi tinggal wacana dan tak terasa dalam hitungan hari akan berganti tahun.

Kenapa Harus ‘Sambat Koyo Liane’

Menjadi pertanyaan selanjutnya kenapa kita harus ‘sambat koyo liane’. Jujur saja manusia itu memiliki kecenderungan untuk membandingkan satu sama yang lain. Sederhananya seperti ini kalau yang lain bisa kenapa saya tidak.

Cuma hal ini sejatinya tidak disarankan karena tidak akan menyelesaikan masalah. yang ada kemudian malah orang lain. Menjadi seni yang patut disimak bukan bila cara ini bisa di ubah menjadi sesuatu yang positif.

Baca juga: 8 Motivasi yang Bikin Kamu Sukses

Apa saja yang membuat saya ingin “sambat koyo liane” berikut rentetannya:

1. Belum Bisa Memiliki Buku Sendiri

Sejak beberapa tahun silam saya memiliki ambisi untuk memiliki buku tapi hingga saat ini yang bisa ditulis hanyalah artikel demi artikel. Padahal kalau di jumlahkan artikel yang ada di beberapa blog yang saya kelola tidak kurang dari 2 ribu judul.

Ada beberapa ide sebenarnya tentang buku apa ingin digarap. Bisa seputar dunia kerja karena kebetulan saya sebagai part of human capital, tentang psikologi karena kebetulan saya mencintai dunia ini.

Atau bisa juga tentang liku-liku pengalaman hidup. Dimana ada banyak hal yang luar biasa bisa saya dapat semisal bisa keliling Indonesia gratis, sekolah dengan segala keterbatasan atau lebih tepat keberuntungan.

Saya katakan demikian karena tempat saya menimba ilmu itu jauh dari ekspektasi saya dan lingkungan sekitar. Tidak disangka dan tidak dinyana bisa melalui semua itu.

Atau mungkin tentang jodoh, dimana saya dapat pasangan tanpa proses pacaran tapi langsung menikah. Berjodohnya pun di facebook, 2 jam setelah saya putus dan ada kata sepakat ayo kita nikah.

2. ½ Hati Menjadi Netprenuer

Niat hati menjadi seorang netprenuer ini muncul sejak tahun 2014 dimana saya memutuskan resign dan mencoba hidup dengan dunia tulis menulis. Tiada hari tanpa menulis dan selain itu untuk mengisi kegiatan pun saya membuka warung bakso.

Namun sayang, warung ini hanya bertahan beberapa bulan saja karena beda visi dengan kawan. Maklum saja usaha bakso ini dikelola saya bersama kawan satu kampung.

Dan setelah itu karena mengejar pujaan hati saya pun pergi ke Jakarta kembali. Satu kota yang dulu sangat ingin dihindari karena hidup hanya untuk kerja dan kerja.

Tak ada cerita bagaimana kita bisa bersosialisasi, bertetangga dan melakukan banyak kegiatan layaknya masyarakat kampung. Karena cinta itu pula yang menguatkan saya bisa bertahan di ibukota.

3. Belum Bisa Pulang ke Jogja

Jogja itu bikin kangen dan selalu memanggil kapan ke Jogja lagi. Setelah 3 tahun di Jakarta niat pulang ke Jogja itu kembali memuncak.

Di sela-sela waktu saya pun mengikuti kegiatan seleksi atau rekrutmen online hingga harus pulang ke Jogja untuk interview dengan country manager mereka. Hasilnya gagal total, entah karena apa persisnya saya juga kurang tahu.

Setelah itu tak ada lagi niat untuk melamar kerja karena memang kalau kelak harus pindah kerja tak ada lagi surat lamaran. Mungkin ini menjadi salah satu previllage saya dimana begitu mudah untuk pindah kerja.

Semua itu bisa jadi karena memang saya orang lapangan dan suka tantangan sehingga mudah digandeng. Atau benar kata pepatah, habiskan gagalmu maka akan ditemukan suksesmu.

Ingat betul selama 12 tahun terakhir saya telah pindah kerja dan alasan pindah pun unik. Kerja itu hanya sebatas media untuk jalan-jalan keliling Indonesia gratis.

4. Hidup di Desa dan Menjadi Tukang Tambal Ban

Mungkin terdengar naif tapi jujur ini adalah satu profesi yang saya inginkan kelak ketika menua selain sebagai seorang netprenuer. Membayangkan membuka jasa tambal ban dan membantu mereka yang kepayahan menuntun sepeda motor.

Satu pekerjaan yang menurut saya tidak perlu banyak berpikir. Paling penting tekun dan bantu orang. Ringankan beban mereka dengan memasukkan angin ke dalam roda sehingga kemudian bisa melanjutkan perjalanan.

Udah itu saja sambatku kali ini. Kelak akan ku teruskan apa saja yang menjengkelkan dan semoga dengan katarsis sambatku yang nggak mutu ini bisa menerangkan pribadi saya.

Tinggalkan komentar