Ini yang Harus di Lakukan Bila Harus Pensiun Dini

Last Updated on 28 Mei 2020 by Joko Yugiyanto

Kita tak pernah tahu kapan wabah virus Corona ini akan berakhir. Bisa dalam hitungan minggu atau bulan. Namun apa jadinya bila waktu terus berjalan dan ekonomi tak kunjung membaik dan pada akhirnya kita harus persiapan pensiun dini.

Tentu kita harus menyiapkan banyak hal agar kelak kita tidak terhempas dan menyisakan banyak tagihan. Dan buat kamu yang belum pernah berpikir hingga pada posisi terburuk ada baiknya mulai berpikir.

Tujuannya tentu saja sebagai langkah preventif. Jangan sampai krisis yang melanda turut menghancurkan ekonomi keluarga. Tak ingin bukan bila kemudian yang akan dikorbankan adalah cita-cita buah hati.

Oleh karena itu sebelum kita dipaksa pensiun dini ada baiknya untuk menyiapkan diri agar lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk. Hal-hal yang mulai kini bisa dilakukan tentu ada baiknya di segerakan.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi pensiun dini:

1. Siapkan usaha lain yang realistis

Kapal besar pun ada sekoci dan kenapa tidak kita coba tiru konsep itu. Di saat kapal benar-benar tenggelam minimal kita ada sekoci yang siap menampung diri kita.

Tak harus yang wah atau besar tapi minimal cukup menyelamatkan satu keluarga. Usaha yang realistis untuk dijalankan tentu saja berkaitan dengan hobi atau kesenangan.

Bagi saya pribadi justru terbalik. Sekoci telah saya coba siapkan sebelum masuk kapal besar. Dimana sebelum masuk dunia kerja sebagai Human Capital telah lebih dulu menjadi seorang blogger.

Adapun profesi ini saya pilih karena tentu saja berkaitan dengan hobi. Menulis dan menjadi seorang narablog seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari diri ini. Banyak hal bisa didapat dengan menulis.

Paling mudah tentunya bagi saya dengan menulis sebagai media katarsis. Menuangkan semua kegelisahan dalam sebuah platform yang bernama blog baik itu berbasis wordpress ataupun blogspot.

Dan kini setidaknya ada beberapa blog yang saya kelola. Meski tak besar angkanya tapi tiap bulan bisa mendapat subidi dari kegiatan menulis.

Tak hanya blog semata, ternyata berbagai platform media sosial yang sering digunakan oleh kita sehari-hari pun bisa menghasilkan rupiah. Baik itu instagram, twitter, facebook ataupun linkedin ternyata masih bisa menghasilkan.

Bagai mengelola sawah untuk menanam padi. Bila kita mampu mengelola satu sawah maka pada prinsipnya kita bisa membuka lahan serupa.

Teori itu yang saya gunakan hingga saat ini. Dimana berawal dari satu kemudian terus bertambah dan bertambah. Butuh waktu pula dari menyiapkan lahan hingga panen.

Demikian pula dalam dunia usaha tentu ada waktu, biaya, tenaga dan pikiran yang harus disiapkan. Ada yang hasil melimpah dan ada hasil yang tak memuaskan tentu hal biasa. Demikian pula dalam mengelola usaha, minimal bila kita bisa mengerjakan hal yang menyenangkan kita akan lebih bisa bertahan lebih lama.

Tak harus menjadi seorang blogger bila setengah hati karena hasilnya pasti tidak jelas. Masih banyak pilihan lain yang bisa di coba. Hanya saja pastikan bahwa apa yang dikerjakan menjadi bagian dari investasi sehingga kita memiliki ketekunan untuk terus bertahan.

Jangan sampai menyerah kemudian menyusun rencana lainnya. Ingat waktu tak bisa di putar kembali.

2. Selesaikan semua cicilan

Pensiun dini mungkin tak bisa ditebak kapan akan terjadi. Terlebih sebagai akibat wabah atau bencana yang bisa menyerang kapan saja. Oleh karena itu sebisa mungkin tidak memiliki cicilan jangka panjang.

Cicilan atau hutang sebisa mungkin di minimalisir terlebih dengan alasan gaya hidup. Lain cerita bila berhutang dengan alasan bisnis atau usaha tentu bisa di konversi dalam bentuk lainnya.

Pensiun dini yang dipaksakan bukan karena keinginan pribadi atau keinginan perusahaan biasanya terjadi sebagai sarana efisiensi untuk tetap menjalankan roda perusahaan. Bukan salah perusahaan karena mereka pun sejatinya tak ingin melakukan.

Namun sekali lagi kondisi satu dan lainnya kadang memaksa hal itu harus terjadi. Kita sebagai pekerja tetap harus berpikir positif dan rasional. Semua itu bukan akhir dari segalanya karena hidup harus terus berjalan.

Untuk cicilan jangka panjang seperti rumah atau mobil harus dihitung ulang. Jangan sampai nilai angsuran terlalu besar dan diatas kemampuan kita karena akan menyedot alokasi yang sangat besar.

Bila hal ini terjadi ada baiknya untuk di take over. Kecuali ada dana darurat yang bisa digunakan untuk melanjutkan cicilan.

3. Hitung kebutuhan minimal untuk 6 bulan pertama

Pensiun dini tak akan bermasalah bila telah ada persiapan. Namun bila ternyata terjadi secara tiba-tiba maka setidaknya harus menyusun budget 6 bulan ke depan. Hitung secara detail atau rinci kebutuhan apa saja yang harus di tunaikan.

Enam bulan pertama pasca keluar dari kantor akan menjadi penentu. Biasanya mereka yang mampu melewati badai ini maka ke depan akan lebih aman daripada mereka yang kepayahan atau terseok-seok.

Bila semua kebutuhan telah terprediksi maka kita akan menghitung sisa keuangan yang ada. Bila ternyata masih ada surplus maka setidaknya hidup tidak akan begitu berat. Tapi bila ternyata pas atau kurang maka ada baiknya untuk berpikir lebih keras.

Dana untuk alokasi mana saja yang bisa dialihkan. Atau bila tidak minimal bisa dikurangi. Dari sekian banyak kebutuhan yang bisa di rem tentu saja yang berkaitan dengan gaya hidup atau konsumsi.

Semisal yang memiliki dana entertain atau hiburan bisa dihilangkan. Bisa juga yang sebelumnya dianggarkan untuk membeli lauk daging di ubah menjadi telur atau tempe.

4. Jaga kesehatan

Bagi yang masih bekerja tentu hal ini aman karena perusahaan masih akan memberikan asuransi baik itu untuk kesehatan maupun jiwa. Selepas tidak kerja otomatis fasilitas ini akan di cabut.

Dengan demikian menjadi sebuah keharusan dan tidak ada kata tidak untuk menjaga kesehatan. Bila dulu selama bekerja abai dengan kesehatan maka kini ada baiknya untuk mulai hidup sehat.

Tak ada lagi agenda keluar malam bila hal itu tidak diperlukan. Terlebih dengan adanya Corona ini maka secara otomatis waktu hanya akan dihabiskan di rumah saja.

Pilih berbagai kegiatan produktif yang tidak membutuhkan biaya. Olahraga tanpa alat bantu pun bisa menjadi pilihan utama.

Meski tidak bekerja minimal BPJS Kesehatan tetap harus di miliki karena itu akan menjadi jangkar bila terjadi hal yang tak di inginkan. Jangan sampai dengan adanya pensiun dini kemudian tidak mendaftarkan BPJS Kesehatan secara mandiri.

Tak harus yang kelas satu, yang kelas dua atau tiga pun bisa seandainya benar-benar menjadi opsi terakhir. Perlu di ketahui sekali sakit kecenderungan akan berlangsung cukup lama khususnya bagi mereka yang memasuki usia pensiun.

5. Berpikir kreatif

Semua hal diatas tentu tak akan bisa terjadi bila kita tidak berpikir kreatif. Saya percaya kreatifitas adalah kunci dari semua masalah. Gunakan pola pikir positif dan sudut pandang secara original maka kita akan menemukan berbagai solusi atas semua masalah.

Percaya bahwa mereka yang bertahan bukan mereka yang kuat, besar ataupun pintar. Pola pikir kreatiflah yang akan menyelamatkan setiap individu dalam kehidupan ini.

Berpikir bahwa apa yang terjadi telah di gariskan Tuhan. Kita tinggal menjalani dan menikmati atas semua peristiwa yang ada. Tak perlu saling menyalahkan atas apa yang terjadi.

Bukankah ada mereka yang di untungkan atas sebuah peristiwa. Pun demikian dengan adanya musibah masih ada segelintir pihak yang beruntung.

Tinggal bagaimana diri kita menempatkan diri. Berada di pihak yang senantiasa berpikir positif dan waras kemudian move on atau berada di pihak yang terpuruk.

Kalau saya secara pribadi entah kapan itu terjadi tapi sikap siapkan pensiun dini itu telah tertanam jauh-jauh hari.

Tinggalkan komentar