Psychology

Kodefikasi

Sharing is caring!

“Wahai manusia, sesungguhnya Aku menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal,” Surat Al Hujurat ayat 13.

Mungkin dalam sejarah baru kali ini saya mencoba menulis artikel menggunakan kutipan ayat suci. Entah kenapa tiba-tiba malam ini saya ingin menulis tentang kodefikasi. Sesuatu yang mungkin sering terjadi pada kita meski bisa jadi kita tidak menyadari.

Berasal dari kegelisahan yang hingga kini belum terjawab. “Saya ini anak apa?” betul saya anak bapak simbok tapi bukan ini yang ingin saya bahas.

Lebih jauh yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana kita bisa bertahan hidup dengan idealisme atau jati diri yang sebenarnya. Bukan hidup asal hidup karena babi di hutan pun hidup atau kalau bekerja asal bekerja, kerja pun bekerja. Itu yang pernah di sampaikan Buya Hamka.

Maksud saya adalah bagaimana kita bisa menjaga setiap hari bergairah untuk menjalani hidup. Bukan merasakan sesuatu yang berat dalam menjalani hidup.

Tak susah bagi saya menemukan mereka yang dalam tanda kutip I Hate Monday. Bila tak kuat bisa jadi keputusan #diRumahAja adalah yang terbaik.

Nampak jelas orang-orang yang menjalani sindrom ini adalah orang yang tersiksa dengan rutinitas hidup. Bagaimana kontrol diri berada di luar padahal seharusnya kontrol diri itu ada di dalam diri sendiri.

Kodefikasi menyeruak bila mana dalam setiap obrolan dengan kawan mencoba mengkonfirmasi seseorang. Paling mudah seperti ini, di saat saya ketemu si Andi dia akan bertanya, “eh Jok, itu Maul di mana ya”.

Karena bisa jadi ada beberapa nama Maul maka saya akan mengatakan, “Maul yang mana ya.” Secara spontan dia akan mengatakan, “Itu lho kakak tingkat kita orang psikologi, yang rambutnya gondrong, dari Jawa Timur dan kalau tidak salah dia ikut Mapala dan Persma”.

Apa yang disampaikan itu semua bisa dikatakan sebagai kodefikasi. Tak tanggung-tanggung dalam satu kalimat ada 5 kodefikasi yang di ungkapkan. Dengan hal itu semua bisa jadi kita akan mudah menemukan sosok Maul ini.

Namun kemudian yang menjadi susah itu adalah bagaimana kita menjadi diri sendiri. Bisa jadi dulu di kampus kita selain kuliah mengikuti beberapa aktifitas semisal mapala, teater, pers mahasiswa, atau organisasi minat bakat lainnya.

Tujuannya tentu saja untuk mengasah bakat dan berharap bisa di manfaatkan dalam kehidupan selanjutnya. Maksud saya dunia selepas lulus dari kampus.

Namun yang terjadi kemudian adalah apa yang dikerjakan selama di kampus bertentangan dengan dunia kerja. Paling banyak sebagai contoh mungkin bisa kita temukan anak-anak fisipol.

Dimana di kampus di ajarkan tentang politik yang sehat dan santun. Berpolitik untuk kemaslahan umat tapi yang ada kemudian adalah politik praktis. Bagaimana cukup memenangkan golongan dan kelompok masalah cara baik atau tidak itu urusan belakangan.

Saya pun hingga kini masih belum menemukan jati diri yang sesungguhnya meski puluhan tahun mencari. Namun beruntung sedikit banyak sudah bisa melakukan, apa yang mewakili diri saya.

Untuk bisa seratus persen itu PR yang sangat berat dimana mungkin saya berambisi bertahan hidup dari karya yang saya buat. Karya yang sebenarnya bukan karena ada request dari user yang sedikit banyak itu adalah hobi.

Baca juga: Tetap Berpikir Positif

Hobi yang kemudian menjadi pekerjaan, sesuatu yang sebenarnya tidak menghasilkan pun akan tetap di lakukan. Hal itu semata-mata karena memang bisa membuat bahagia.

Di kampus ada yang mengatakan saya anak persma, ya karena mungkin saya bergabung dengan pers mahasiswa. Di kampus ada juga yang mengatakan saya anak teater, itu tak salah memang karena selama kuliah aktif di kegiatan teater.

Ada juga mereka yang mengatakan saya anak gunung dan itu tak salah juga. Salah satu kegiatan kegiatan yang paling saya suka tentu saja pergi ke gunung.

Saking rajinnya pernah dalam satu minggu dapat 3 gunung. Ada duit tidak ada duit selama ada sponsor ayo jalan.

Pernah ada keinginan untuk menjadi anak jalanan. Salah satunya bergabung dengan komunitas yang fokus mendampingi anak jalanan tapi ternyata gagal. Yang ada kemudian hanya sebatas berteman dengan kawan-kawan yang ada di jalanan.

Satu kegiatan yang bisa jadi paling membahagiakan karena mereka adalah orang-orang jujur. Tak ada topeng atau tipu-tipu layaknya dunia gemerlap dengan setelan baju bagus dan rapi.

Hingga kini pun masih sering bertanya, apakah saya harus bertahan kerja di kantor. Atau memulai hanya mengerjakan apa yang di suka. Waktu tak bisa di putar kembali itu pasti, tapi tak ada kata terlambat untuk memulai.

Baca juga: Langkah Cerdas Menghadapi Ketidakpastian

Beruntung yang masih muda karena waktu adalah modal terbaik untuk memulai. Mencoba menemukan sesuatu yang benar-benar representasi jati diri.

Atau saat ini bila menjadi seorang blogger harus mampu menempatkan diri. Jangan sampai tergulung arus dan kehilangan apa yang di mulai.

Dan mungkin buat kamu para sahabatku. Bila cukup baik mengenal saya bisa bantu kasih opsi langkah cerdas apa yang harus di lakukan.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close