Psychology

Jatuh, Tak Perlu Takut Kamu Bisa Bangkit Lagi

Jatuh, tak perlu takut kamu bisa bangkit lagi. Kalimat itu akan selalu ku jejalkan pada anak semata wayang dimana di usianya yang ke 3 tahun. Meski mungkin dia belum paham benar setidaknya sedikit mengerti akan apa yang ayah sampaikan.

Selain bekerja, makan dan tidur hampir bisa di pastikan waktu yang ada lebih banyak untuk menemani V Abhiraj Jurnalistika. Di masa keemasannya saya tak ingin kehilangan momen untuk memberikan yang terbaik.

Bukan dalam hal materi tentunya karena memang keluarga kami lebih pada tataran cukup atau tidak lebih dan tidak kurang. Memberikan yang terbaik di sini tentu saja lebih pada bagaimana ia bisa tumbuh kembang dengan segala atributnya.

Main mobil-mobilan, main vespa atau sepeda hingga memanjat apa yang ada seolah menjadi bagian dari ritus yang harus di jalani. Dan kemudian saat jelang tidur menjadi tugas bapak atau emaknya untuk memijitnya hingga tertidur pulas.

Di saat bermain sepeda atau vespa tak sedikit ia terjatuh. Bahkan seringkali ia mencari turunan kemudian menggunakan vespa untuk meluncur. Tak jarang juga ia berpolah layaknya pembalap profesional melakukan manuver.

Akibatnya tak sekali dua kali pasti akan jatuh. Nyungsep hingga kemudian siku atau dengkul terluka dan berdarah. Satu yang seringkali terlihat ia tak menangis melainkan menyeringai dan kemudian bangun lagi.

Tak hanya itu, main bola yang memungkinkan berbenturan dengan orang yang lebih besar pun tak terelakkan. Atau bisa jadi kemudian naik pohon dan enggan turun dan membuat siapa saja yang melihat orang yang melihat teriak ketakutan.

Jatuh, tak perlu takut kamu bisa bangkit lagi itu yang akan terus ku jadikan mantra agar ia puas dengan masanya. Masa kanak-kanak yang tidak mungkin akan terulang kembali.

Sebisa mungkin menuntaskan hasratnya untuk melakukan apa yang di suka meski kadang di luar nalar. Tak jarang pula kami sebagai orang tua yang akrab dengan gawai mengabadikan beberapa peristiwa sebagai dokumen bahwa dulu ia pernah jatuh dan berani bangkit lagi.

Menjadi cambuk tentunya bagi saya atau siapapun itu. Untuk tidak takut berproses dan menghadapi kemungkinan terburuk. Semisal bila kita mencoba sesuatu dan gagal bukankah kita kemudian masih bisa mencoba cara lain.

Selalu ada harga yang harus di bayar, pun demikian bila kita rasa penasaran dengan sesuatu. Tak perlu takut dan coba dulu kemudian lihat hasilnya.

Fatal pastinya bila kemudian menyerah dan memiliki ketakutan untuk mencoba kembali. Memenjarakan ambisi dalam ketakutan dan merasa nyaman di zona nyaman karena itu adalah petaka.

Sering mendengar penyesalan itu di belakang dan bila di depan adalah pendaftaran itu benar kiranya. Tak ingin bila kemudian melewati masa yang seharusnya di ambil beberapa tahun sebelumnya baru terjadi hari ini.

Jatuh, tak perlu takut kamu bisa bangkit lagi. Itu akan ku katakan setidaknya seribu kali. Artinya 1000 kesempatan akan terbuka lebar di depannya. Kesempatan gagal yang harus diambil hingga selesai untuk kemudian raih kesuksesan.

Ingat kegagalan karir itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Namun ada proses yang membuat seseorang gagal dalam berkarir semisal bermasalah dalam hal attitude, integritas dan kedisiplinan.

Di sini kamu paham! Bila tidak silakan tulis di komentar yang ada di bawah iniā€¦.

Show More

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Open chat